More Text

Unordered List

Unordered List

BTricks

BThemes

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto Saya

Just An Ordinary People
But I Have A Dream
And Someday, I Believe The Dream Will Be Come True :D

Archives

Senin, 08 Juli 2013

LAPORAN PRAKTIKUM DOSIS RESPON OBAT DAN INDEKS TERAPI | Farmakologi


DOSIS RESPON OBAT DAN INDEKS TERAPI



I.             Tujuan Percobaan
1.      Memperoleh gambaran bagaimana rancangan eksperimen untuk memperoleh DE50 dan DL50
2.      Memahami konsep indeks terapi dan implikasi – implikasinya.

II.          PRINSIP
1.      Indeks Terapi
Indeks terapi adalah rasio antara dosis yang menimbulkan kematian pada 50% dari hewan percobaan yang digunakan (LD50) dibagi dosis yang memberikan efek yang diteliti pada 50% dari hewan percobaan yang digunakan (ED50).
Indeks terapi  
Semakin besar indeks terapi obat semakin besar efek terapeutiknya.
2.      Dosis respon obat
Jika dosis meningkat maka intensitas efek obat pada makhluk hidup  juga meningkat.
Jika dosis berlebih maka akan menyebabkan over dosis bahkan kematian karena rentang indeks terapinya terlalu rendah sehingga menimbulkan efek toksik.
Jika dosis kurang maka tidak akan menimbulkan efek teurapeutik.

III.       Teori
Dasar-dasar Kerja Obat
               Dalam farmakologi, dasar-dasar kerja obat diuraikan dalam dua fase yaitu fase farmakokinetik dan fase farmakodinamik. Dalam terapi obat, obat yang masuk dalam tubuh melalui berbagai cara pemberian umumnya mengalami absorpsi, distribusi, dan pengikatan untuk sampai ke tempat kerja ( reseptor ) dan menimbulkan efek , kemudian dengan atau tanpa biotransformasi ( metabolisme ) lalu di ekskresi kan dari tubuh. proses tersebut dinyatakan sebagai proses farmakokinetik. Farmakodinamik, menguraikan mengenai interaksi obat dengan reseptor obat; fase ini berperan dalam efek biologik obat pada tubuh (Adnan,2011).
Gambar : Proses Farmakokinetik Obat    (Schmitz et al, 2003).

Absorpsi
               Jumlah obat yang dapat diabsorbsi oleh tubuh, dinyatakan dengan bioavailalabilitas obat. Tingginya nilai bioavailabilitas obat tergantung pada banyak factor, yang menentu -kan bagaimana molekul obat melewati barier saluran gastrointestinal dan berhasil memasuki pembuluh darah dan diangkut sampai ke reseptornya.
Faktor-faktor tersebut antara lain :
1.      cara preparasi dan bentuk sediaan
2.      ukuran molekul
3.      kelarutan molekul dalam lipid : yang lebih mudah larut dalam lipid, bioavailabilitasnya lebih tinggi
4.      kelarutan dalam air dan lipid : yang larut dalam keduanya, bioavailabilitasnya sangat baik; yang larut hanya dalam air, bioavailabilitasnya rendah karena molekul mudah terdisosiasi.
5.      transport aktif
6.      interaksi dengan makanan
7.      stabilitas di dalam usus
8.      pengosongan lambung
9.      adanya metabolisme dalam usus dan di dalam hati
10.  factor individu pasien itu sendiri dan faktor keadaan patologik dari pasien (Adnan,2011).

               Beberapa faktor yang penting dibahas dibawah ini :
1.      Obat harus menembus sawar (barrier) sel di berbagai jaringan (transport lintas membran , dan sebagian kecil ada yang melewati celah antar sel atau melintasi endotel kapiler)
2.      Membran sel
3.      Cara transport obat melintasi membran ( semipermiabel ), dapat melalui:
a.       Difusi pasif ( dari sisi yang kadarnya tinggi ke sisi yang kadarnya rendah
b.      Transport aktif ( Bersifat selektif , melibatkan energi dan komponen-komponen membrane sel)
c.       Pinositosis yaitu cara transport dengan membentuk vesikel, misalnya makromolekul protein
d.      Difusi terfasilitasi (Kee et al, 1994).

Cara Pemberian Obat
a.      Cara pemberian obat per oral :
         Cara ini paling umum dilakukan karena mudah, aman dan murah. Namun untuk obat yang diberikan melalui oral, ada tiga faktor yang mempengaruhi bioavailabilitas :
1.      Faktor obatnya sendiri (larut dalam lipid, air atau keduanya.
2.      Faktor penderita ( keadaan patologik organ-organ pencernaan dan metabolisme )
3.      Interaksi dalam absorpsi di saluran cerna. (interksi dengan makanan) sebagai tugas mandiri
b.      Cara pemberian obat melalui suntikan :
         Keuntungan pemberian obat secara parenteral dibandingkan per oral, yaitu :
1.      Efeknya timbul lebih cepat dan teratur
2.      Dapat diberikan pada penderita yang tidak kooperatif, tidak sadar atau muntah-muntah.
3.      Sangat berguna dalam keadaan darurat
         Kelemahan cara pemberian obat melalui suntikan :
1.      Dibutuhkan cara aseptis
2.      Menyebabkan rasa nyeri
3.      Kemungkinan terjadi penularan penyakit lewat suntikan
4.      Tidak bisa dilakukan sendiri oleh penderita
5.      Tidak ekonomis
c.       Pemberian Obat Melalui Paru-paru :
         Cara ini disebut cara inhalasi, hanya dilakukan untuk obat yang berbentuk gas atau cairan yang mudah menguap, misalnya anestetik umum dan obat dalam bentuk aerosol. Absorpsi melalui epitel paru dan mukosa saluran napas (Adnan,2011).

Distribusi
               Distribusi obat terjadi melalui dua fase berdasarkan penyebaran-nya, yaitu:
1.      Distribusi fase pertama : yaitu ke organ-organ yang perfusinya sangat baik ( jantung, hati, ginjal dan otak ), terjadi segera setelah penyerapan, selanjutnya.
2.      Distribusi fase kedua : yaitu ke organ-organ yang perfusinya tidak begitu baik ( otot, visera, kulit, dan jaringan lemak ) (Schmitz et al, 2003).
Obat yang mudah larut dalam lemak akan melintasi membrane sel dan terdistribusi ke dalam sel, obat yang tidak larut dalam lemak sulit menembus membrane sel sehingga distribusinya terbatas terutama di cairan ekstrasel. Distribusi terbatasi oleh ikatan obat pada protein plasma dan hanya obat bebas yang dapat berdifusi kedalam sel dan mencapai keseimbangan (Schmitz et al, 2003).

Farmakodinamik
               Cabang ilmu yang mempelajari efek biokimia dan fisiologi obat serta mekanisme kerjanya disebut farmakodinamik.
Mekanisme kerja obat yaitu :
1.      Obat dapat mengubah kecepatan kegiatan faal ( fisiologi ) tubuh
2.      Obat tidak menimbulkan suatu fungsi baru, tetapi hanya memodulasi fungsi yang sudah ada ( ini tidak berlaku bagi terapi gen )
Tujuan mempelajari mekanisme kerja obat ialah untuk :
1.      Meneliti efek utama obat
2.      mengetahui interaksi obat dengan sel
3.      Mengetahui respon khas yang terjadi
·        Interaksi Obat Dengan Biopolimer
         Semua molekul obat yang masuk dalam tubuh, kemungkinan besar berikatan dengan konstituen jaringan atau biopolimer seperti protein, lemak, asan nukleat, mukopolisakarida, enzim biotransformasi dan reseptor. Pengikatan obat oleh biopolimer dipengaruhi oleh bentuk konformasi molekul obat dan pengaturan ruang dari gugus-gugus fungsional senyawa obat. Interaksi obat dapat berupa:
(1) Interaksi tidak khas dan ;
(2) Interaksi khas.
a.       Interaksi tidak khas adalah interaksi yang hasilnya tidak menghasilkan efek yang berlangsung lama dan tidak menyebabkan perubahan struktur molekul obat maupun biopolimer. Interaksi ini bersifat reversibel ( terpulihkan ) dan tidak menghasilkan respons biologis. Contohnya : Interaksi obat yang hanya merubah lingkungan fisika-kimia dari struktur badan ( protein jaringan, asam nukleat, mukopolisakarida, air dan lemak ), misalnya : anestetik umum merubah struktur air didalam otak; diuretik osmotik merubah tekanan osmotik dalam ginjal.
b.      Interaksi khas adalah interaksi yang menyebabkan perubahan struktur makromolekul reseptor sehingga timbul rangsangan perubahan fungsi fisiologis normal yang dapat diamati sebagai respons biologis. Interaksi dengan reseptor dan interaksi dengan enzim biotransformasi, merupakan interaksi khas. (Adnan,2011).

Indeks Terapi
Indeks terapi hanya berlaku untuk satu efek, maka obat yang mempunyai beberapa efek terapi juga mempunyai beberapa indeks terapi. Contoh : Aspirin mempunyai efek analgetik dan antirheumatik. Indeks terapi atau batas keamanan obat aspirin sebagai analgetik lebih besar dibandingkan dengan indeks terapi sebagai antireumatik karena dosis terapi antireumatik lebih besar dari dosis analgetik (Adnan,2011).
Meskipun perbandingan dosis terapi dan dosis toksik sangat bermanfaat untuk suatu obat, namun data demikian sulit diperoleh dari penelitian klinik.( sulit mendapatkan responden yang bersedia untuk uji klinik ). Maka dari itu selektifitas obat dinyatakan secara tidak langsung yaitu diperhitungkan dari data : (1) pola dan insiden efek samping yang ditimbulkan obat dalam dosis terapi, dan (2) persentase penderita yang menghentikan obat atau menurunkan dosis obat akibat efek samping. (Adnan,2011).
               Harus diingat bahwa gambaran atau pernyataan bahwa obat cukup aman untuk kebanyakan penderita, tetapi tidak menjamin keamanan untuk setiap penderita karena selalu ada kemungkinan timbul respons yang menyimpang. Contohnya : penisilin dapat dinyatakan aman untuk sebagian besar penderita tetapi dapat menyebabkan kematian untuk penderita yang alergi terhadap obat tersebut. (Adnan,2011).
Respons individu terhadap obat sangat bervariasi, yaitu dapat berupa: (1) Hiperaktif (dosis rendah sekali sudah dapat memberikan efek); (2) Hiporeaktif (untuk mendapatkan efek, memerlukan dosis yang tinggi sekali); (3) Hipersensitif ( orang alergi terhadap obat tertentu ); (4) Toleransi ( untuk mendapatkan efek obat yang pernah di konsumsi sebelumnya, memerlukan dosis yang lebih tinggi); (5) Resistensi (efek obat berkurang karena pembentukan genetik); (6) Idiosikrasi (efek obat yang aneh , yang merupaka reaksi alergi obat atau akibat perbedaan genetik)  (Adnan,2011).

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Aksi Obat
1.      Berat badan
2.      Umur
3.      Jenis kelamin
4.      Kondisi patologik pasien
5.      Genetik ( Idiosinkrasi )
6.      Cara pemberian obat :
a.       Yang memberikan efek sistemik : - oral; sublingual; bukal;-parenteral;- implantasi subkutan; rektal;
b.      Yang memberikan efek lokal :- inhalasi; -topikal ( pada kulit ) : salep, krim , lotion ; - obat-obat pada mukosa : tetes mata, tetes telinga (Adnan,2011).

Hipnotika & Sedatif
               Hipnotik Sedatif merupakan golongan obat depresan susunan saraf pusat (SSP) yang relatif tidak selektif, mulai dari yang ringan yaitu menyebabkan kantuk, menidurkan, hingga yang berat yaitu hilangnya kesadaran, keadaan anestesi, koma dan mati, bergantung kepada dosis. Pada dosis terapi obat sedatif menekan aktivitas, menurunkan respon terhadap rangsangan emosi dan menenangkan. Obat Hipnotik menyebabkan kantuk dan mempermudah tidur serta mempertahankan tidur yang menyerupai tidur fisiologis.Obat hipnotika dan sedatif biasanya merupakan turunan Benzodiazepin. Beberapa obat Hipnotik Sedatif dari golongan Benzodiazepin digunakan juga untuk indikasi lain, yaitu sebagai pelemas otot, antiepilepsi, antiansietas dan sebagai penginduksi anestesis (Anonym, 2006).
(Anonym, 2006).

Tiopental
               Tiopentaladalah sebuah obat tidur yang diberikan secara intravena untuk induksi anestesi umum atau untuk produksi anestesi lengkap durasi pendek. Hal ini juga digunakan untuk hipnosis dan untuk kontrol negara kejang. Telah digunakan pada pasien bedah saraf untuk mengurangi tekanan intrakranial meningkat. Tidak menghasilkan eksitasi apapun tetapi memiliki analgesik miskin dan sifat otot relaksasi. Dosis kecil telah terbukti anti analgesik dan menurunkan ambang nyeri (Martindale, 1996).
(Adriano, 2007).
Farmakodinamik
               Alpha
Thiopental, obat tidur, digunakan untuk induksi anestesi sebelum penggunaan lain agen anestesi umum dan untuk induksi anestesi untuk prosedur bedah, diagnostik, terapeutik atau pendek berhubungan dengan rangsangan nyeri yang minimal (Adriano, 2007).
               Thiopental adalah depresan ultrashort-acting dari sistem saraf pusat yang menginduksi hipnosis dan anestesi, tetapi tidak analgesia. Ini menghasilkan hipnosis dalam waktu 30 sampai 40 detik injeksi intravena. Pemulihan setelah dosis kecil cepat, dengan beberapa mengantuk dan amnesia retrograde (Adriano, 2007).
            Dosis intravena berulang menyebabkan anestesi berkepanjangan karena jaringan lemak bertindak sebagai reservoir, mereka menumpuk Pentothal dalam konsentrasi 6 sampai 12 kali lebih besar dari konsentrasi plasma, dan kemudian melepaskan obat secara perlahan menyebabkan anestesi berkepanjangan (Adriano, 2007).

IV.        Bahan, Alat, dan hewan percobaan
Hewan Percobaan           : Mencit jantan
  (bobot badan rata-rata 20-25 kg)
Bahan Obat                     :  1. Tiopental natrium
2. NaCl Fisiologis
Alat                                 :  1. Alat suntik 1 ml
2. Timbangan hewan

V.     Prosedur
Mencit dibagi menjadi 4 kelompok dan masing-masing terdiri dari 4 ekor. Setiap mencit pada setiap kelompok diberi tanda supaya mudah dikenal. Obat (Tiopental Natrium) diberikan secara intraperitonial kepada setiap mencit dan setiap kelompok diberikan dosis yang meningkat. Dosis yang diberikan adalah sebagai berikut:

Kelompok
Dosis (mg/kg BB)
I
75
II
100
III
300
IV
Disuntik NaCl fisiologis

Jumlah mencit yang kehilangan ”righting reflex” diamati dan dicatat pada setiap kelompok dan angka tersebut dinyatakan dalam persentase serta jumlah mencit yang mati pada setiap kelompok tersebut juga dicatat. Kemudian grafik dosis-respon dibuat pada ketas grafik log pada ordinat presentase hewan yang memberikan efek (hilang ”righting refleks” atau kematian) pada dosis yang digunakan.

VI.    HASIL PENGAMATAN
         Kelompok 1
Nomor Mencit
Berat Badan
Dosis
Mulai kehilangan righting refleks
I
31,1 gram
75 mg/kg
56 menit 2 detik
II
28 gram
150 mg/kg
9 menit 38 detik
III
36,8 gram
300 mg/kg
46 menit 2 detik
IV
21,8 gram
NaCL 2%
-

Kelompok 2
Nomor Mencit
Berat Badan
Dosis
Mulai kehilangan righting refleks
I
26,3 gram
75 mg/kg
-
II
28 gram
150 mg/kg
43 menit
III
18,9 gram
300 mg/kg
-
IV
29,2 gram
NaCL 2%
-

         Kelompok 3
Nomor Mencit
Berat Badan
Dosis
Mulai kehilangan righting refleks
I
33,8 gram
75 mg/kg
-
II
29 gram
150 mg/kg
-
III
32,4 gram
300 mg/kg
-
IV
33,5 gram
NaCL 2%
-

Kelompok 4
Nomor Mencit
Berat Badan
Dosis
Mulai kehilangan righting refleks
I
28 gram
75 mg/kg
-
II
22,7 gram
150 mg/kg
33 menit
III
32,3 gram
300 mg/kg
16 menit, 22 detik
IV
29,7 gram
NaCL 2%
-


Data Kurva Log Probit
Dosis
(mg/kg)
Log Dosis
Observasi kematian
Hewan mati
Hewan hidup
Akumulasi
Rasio kematian
% kematian
Mati
Hidup
Total
75
1,875
1/4
1
3
1
6
7
1/7
14%
150
2,176
3/4
3
1
4
3
7
4/7
57%
300
2,477
 2/4
2
2
6
3
8
6/8
75%

·         Jumlah kematian diganti oleh jumlah mencit yang kehilangan righting reflex.



VII.     PERHITUNGAN DAN GRAFIK
Perhitungan Dosis
Kelompok 1
BB (konversi) = 20 mg
Volume maksimal  = 0,5 mL
Volume obat yang diberikan :
Mencit :         
Mencit II :         
Mencit III :         
Mencit IV :         


Kelompok 2
BB (konversi) = 20 mg
Volume maksimal  = 0,6 mL
Volume obat yang diberikan :
Mencit :         
Mencit II :         
Mencit III :         
Mencit IV :         



Kelompok 3
BB (konversi) = 20 mg
Volume maksimal  = 0,5 mL
Volume obat yang diberikan :
Mencit :         
Mencit II :         
Mencit III :         
Mencit IV :         


Kelompok 4
BB (konversi) = 20 mg
Volume maksimal  = 0,5 mL
Volume obat yang diberikan :
Mencit :         
Mencit II :         
Mencit III :         
Mencit IV :         



VIII.  PEMBAHASAN
Percobaan dosis respon obat dan indeks terapi ini bertujuan untuk memperoleh (LD50) dan (ED50) serta memahami konsep indeks terapi pada hewan percobaan, yaitu mencit dengan berat sekitar 20 g. Sementara obat yang diujikan indeks terapinya adalah tiopental natrium. Selain obat, digunakan juga NaCl fisiologis sebagai kontrol negatif.
Penyuntikan dilakukan secara intraperitonial. Cara pemberian secara intraperitonial yaitu mencit disuntik di bagian abdomen bawah sebelah garis midsagital dengan posisi abdomen lebih tinggi daripada kepala, dan kemiringan jarum suntik 10°. Pemberian secara intraperitonial dimaksudkan agar absorbsi pada lambung, usus dan proses bioinaktivasi dapat dihindarkan, sehingga didapatkan kadar obat yang utuh dalam darah karena sifatnya yang sistemik.
Mencit kelompok IV disiapkan sebanyak 4 ekor dengan berat masing-masing yaitu 28 g, 22,7 g, 32,3 g, dan 29,7 g. Terdapat pula mencit dari kelompok I dengan berat masing-masing yaitu 31,1 g, 28 g, 36,8 g, dan 21,8 g. Sedangkan mencit kelompok II memiliki berat masing-masing yaitu 26,3 g, 28 g, 18,9 g, 29,2 g. Mencit kelompok III memiliki berat masing-masing yaitu 33,8 g, 29 g, 32,4 g, dan 33,5 g. Enam belas ekor mencit ini digunakan untuk masing- masing variasi dosis serta sebagai kontrol negatif. Berat badan mencit digunakan untuk mendapatkan hasil konversi dosis. Setelah pemberian obat ’righting reflex’ masing- masing mencit dicatat pada waktu yang telah ditentukan. Righting reflex atau disebut juga static reflex adalah bermacam gerakan refleks untuk mengembalikan posisi normal badan dari keadaan yang dipaksakan atau melawan tenaga yang membuat badan bergerak ke arah yang tidak normal.
Obat yang digunakan adalah tiopental natrium. Tiopental natrium adalah obat anti cemas dari golongan benzodiazepine. Tiopental natrium merupakan salah satu obat golongan hipnotik sedatif. Hipnotik atau obat tidur adalah zat-zat yang dalam dosis terapi diperuntukkan meningkatkan keinginan untuk tidur dan mempermudah atau menyebabkan tidur. Bila obat ini diberikan dalam dosis lebih rendah untuk tujuan menenangkan, maka dinamakan sedatif.
Hipnotik sedatif merupakan golongan obat depresan susunan saraf pusat yang relatif tidak selektif, mulai dari yang ringan, yaitu menyebabkan tenang atau kantuk, menidurkan hingga yang berat, yaitu hilangnya kesadaran, keadaan anestesi, koma, dan mati bergantung kepada dosis. Hipnotik dapat dibagi dalam beberapa kelompok yakni senyawa barbiturate dan benzodiazepine, obat lain (seperti meprobamat dan opipramol), serta obat obsolet (seperti kloralhidrat). Bila digunakan dalam dosis yang meningkat, suatu sedatif (misalnya fenobarbital), akan menimbulkan efek berturut-turut peredaan, tidur, dan pembiusan total. Sedangkan pada dosis yang lebih besar lagi, dapat menimbulkan koma, depresi pernapasan, dan kematian. Penggunaan tiopental natrium sebagai hipnotik sedatif telah menurun karena efeknya yang kurang spesifik terhadap sistem saraf pusat.
Tiopental natrium bekerja dengan meningkatkan efek GABA(gamma aminobutyric acid) di otak. GABA adalah neurotransmitter (suatu senyawa yang digunakan oleh sel saraf untuk saling berkomunikasi) yang menghambat aktifitas di otak. Diyakini bahwa aktifitas otak yang berlebihan dapat menyebabkan kecemasan dan gangguan jiwa lainnya. Dengan adanya interaksi benzodiazepin-reseptor, afinitas GABA terhadap reseptornya akan meningkat, dan dengan ini kerja GABA akan bertambah. Dengan diaktifkannya reseptor GABA, saluran ion klorida akan terbuka dan dengan demikian ion klorida akan lebih banyak yang mengalir masuk ke dalam sel. Hal ini akan menyebabkan hiperpolarisasi sel bersangkutan dan sebagai akibatnya kemampuan sel untuk dirangsang akan berkurang.
Efek samping tiopental natrium yang paling sering adalah mengantuk, lelah, dan ataksia (kehilangan keseimbangan). Walaupun jarang, tiopental natrium dapat menyebabkan reaksi paradoksikal, kejang otot, kurang tidur, dan mudah tersinggung. Bingung, depresi, gangguan berbicara, dan penglihatan ganda juga merupakan efek yang jarang dari tiopental natrium. Obat ini dibuat dalam tiga variasi dosis yaitu 75 mg/kg, 150 mg/kg, dan 300 mg/kg untuk mengetahui konsentrasi obat yang dapat memberikan efek pada hewan percobaan.
Dosis yang diberikan kepada setiap mencit meningkat. Pada masing-masing kelompok yaitu mencit I diberikan tiopental natrium dengan dosis 75 mg/kg BB. Pada mencit II diberikan tiopental natrium dengan dosis 150 mg/kg BB. Pada mencit III diberikan tiopental natrium dengan dosis 300 mg/kg BB. Dan pada mencit IV diberikan NaCl fisiologis. Variasi dosis yang digunakan sama pada semua kelompok mencit sehingga terdapat 12 mencit yang diberi perlakuan obat dan 4 mencit sebagai kontrol negatif.
Pertama, mencit ditandai ekornya masing-masing terlebih dahulu agar mudah dalam membedakannya. Kemudian mencit-mencit tersebut ditimbang pada neraca Ohauss yang telah dikalibrasi. Setelah mendapatkan berat badan mencit, maka jumlah dosis yang akan diberikan dapat diketahui. Jumlah obat yang diberikan disesuaikan dengan berat mencit. 
Volume obat yang didapat melalui perhitungan pada kelompok IV yaitu mencit I adalah 0,7 mL ; mencit II 0,56 mL ; mencit III 0,8 mL ; mencit IV 0,74 mL. Pada kelompok I yaitu mencit I adalah 0,78 mL ; mencit II 0,7 mL ; mencit III 0,92 mL ; mencit IV 0,55 mL. Pada kelompok II yaitu mencit I adalah 0,78 mL ; mencit II 0,84 mL ; mencit III 0,57 mL ; mencit IV 0,87 mL. Pada kelompok III yaitu mencit I adalah 0,845 mL ; mencit II 0,725 mL ; mencit III 0,81 mL ; mencit IV 0,8375 mL. Setelah didapatkan jumlah dosis yang akan disuntikkan, maka keempat mencit yang telah diketahui berat badannya disuntik secara intraperitonial. Diperlukan adanya suatu perlakuan khusus pada mencit sebelum penyuntikkan supaya mencit-mencit tersebut terkondisikan, sehingga tingkat keamanan, ketepatan, dan keakuratan penyuntikkan dosis dapat teratasi.
Dari hasil percobaan, pada kelompok IV dengan kadar obat 150 mg dan 300 mg, efek obat sudah terlihat pada mencit. Namun, pada dosis 75 mg terlihat efek obat yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan pemberian dosis 150 mg dan 300 mg. Dalam percobaan ini, tidak ada mencit yang mengalami kematian. Hal ini dapat disebabkan dosis obat yang terlalu kecil. Mencit tetap aktif bergerak seperti biasa. Efek terapi dari pemberian obat dengan dosis 150 mg pada  mencit II dengan bobot 22,7 g mulai terlihat saat 15 menit setelah pemberian obat. Mencit terlihat diam dan seperti tertidur namun ketika diberi perlakuan (dipegang), mencit tetap bergerak seperti biasa. Setelah 33 menit pemberian obat, mencit tidak kehilangan righting reflex tetapi terlihat mengantuk. Sedangkan pada mencit III dengan bobot 32,3 g dan pemberian dosis 300 mg efek obat terlihat pada menit ke 16. Mencit inilah yang kehilangan righting reflexnya. Karena ketika diberi perlakuan (dipegang) dan tubuhnya dibalikkan, mencit tetap diam dan tidak memberikan perlawanan. Pada mencit I dengan bobot 28 g dan pemberian dosis 75 mg efek obat tidak terlihat. Mencit tetap aktif bergerak seperti biasa seperti pada mencit IV yang berfungsi sebagai kontrol negatif. Pada mencit ini pun tidak terdapat tanda-tanda kehilangan righting reflex. Hal ini disebabkan pemberian dosis yang terlalu kecil atau penyuntikkan yang tidak tepat. Pemberian obat secara intraperitonial cukup sulit karena diperlukan perkiraan yang tepat agar suntikan tidak terkena organ lain dan menimbulkan pendarahan. Selain itu karena pada saat pemberian obat, suspensi obat tidak dikocok terlebih dahulu sehingga dosis dalam obat tidak tersebar merata.
Pada kelompok I seluruh variasi pemberian dosis obat yaitu 75 mg, 150 mg, dan 300 mg efek obat sudah terlihat. Pada mencit I dengan bobot 31,1 g dan pemberian dosis 75 mg, mencit menunjukkan tanda-tanda kehilangan righting reflex setelah 56 menit pemberian obat. Pada mencit II dengan bobot 28 g dan pemberian dosis 150 mg, mencit menunjukkan tanda-tanda kehilangan righting reflex setelah 9 menit 38 detik pemberian obat. Pada mencit III dengan bobot 36,8 g dan pemberian dosis 300 mg, mencit menunjukkan tanda-tanda kehilangan righting reflex setelah 46 menit pemberian obat. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian obat secara intraperitonial sudah benar dan tepat sehingga seluruh mencit yang diberi variasi dosis kehilangan righting reflexnya. Tetapi seharusnya pada mencit III waktu kehilangan righting reflexnya lebih cepat dibanding dosis lain karena efek obat akan meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah dosis. Hal yang terlihat dari hasil percobaan adalah berkebalikan yaitu dosis 150 mg lebih cepat dari dosis 300 mg. Hal ini disebabkan penyuntikkan pada mencit II yang mengenai organ lain sehingga mencit pun cepat tidak sadarkan diri.
Pada kelompok II hanya pada variasi pemberian dosis obat 150 mg saja yang memberikan efek. Hal ini terjadi pada mencit II dengan bobot 18,9 g dan setelah 43 menit pemberian obat, mencit ini mulai kehilangan righting reflexnya. Sedangkan pada mencit I dengan dosis 75 mg dan mencit II dengan dosis 300 mg mencit tetap bergerak aktif seperti biasa sama dengan kontrol negatifnya yaitu mencit IV yang diberi NaCl fisiologis. Seharusnya efek obat meningkat seiring dengan peningkatan pemberian dosis, tetapi hasil percobaan tidak menunjukkan seperti itu. Hal ini dapat terjadi karena pada saat pemberian obat, suspensi obat tidak dikocok terlebih dahulu sehingga dosis dalam obat tidak tersebar merata. Selain itu karena penyuntikkan obat tidak tepat di bagian abdomen bawah sehingga obat tidak berefek.
Pada kelompok III seluruh variasi pemberian dosis obat yaitu 75 mg, 150 mg, dan 300 mg efek obat tidak terlihat. Mencit I, II, dan III tetap bergerak aktif seperti biasa sama dengan kontrol negatifnya yaitu mencit IV. Tidak terlihat tanda-tanda mencit kehilangan righting reflexnya. Hal ini dapat terjadi karena penyuntikkan obat tidak tepat di bagian abdomen bawah sehingga obat tidak berefek. Pemberian obat secara intraperitonial cukup sulit karena diperlukan perkiraan yang tepat agar suntikan tidak terkena organ lain dan menimbulkan pendarahan. Selain itu karena pada saat pemberian obat, suspensi obat tidak dikocok terlebih dahulu sehingga dosis dalam obat tidak tersebar merata.
Kemudian setelah data mengenai jumlah mencit yang memberikan efek didapat, data yang dinyatakan dengan angka tersebut dinyatakan dalam persentase dan dimasukkan kedalam grafik dosis respon. Grafik dosis-respon digambarkan, dengan cara pada kertas grafik log pada ordinat persentase hewan yang memberikan efek (hilang righting reflex atau kematian) pada dosis yang digunakan. Grafik dosis-respon digambarkan menurut pemikiran paling representative untuk fenomena yang diamati dengan memperhatikan sebesar titik-titik pengamatan. Hubungan terapi suatu obat dengan kurva dosis respon terdiri dari dua :
1.      Kurva dosis yang terjal
Dengan dosis kecil menyebabkan respon obat yang cepat ( efektifitas obat besar) tetapi toksissitasnya besar.
Rentang efek teurapeutiknya besar atau luas.
2.      Kurva dosis respon datar atau landai.
Dosis yang diperlukan relative lebih besar untuk mendapatkan respon yang lebih cepat (efektifitas berkurang) tetapi toksisitasnya kecil.
Rentang efek teurapeutiknya kecil atau sempit.
Obat yang ideal menimbulkan efek terapi pada semua penderita tanpa menimbulkan efek toksik pada seorang penderita pun. Oleh karena itu,
Indeks terapi =  dan untuk obat ideal : .
Pada umumnya intensitas efek obat akan meningkat jika diberi  dosis yang  meningkat. Dari hasil percobaan terlihat bahwa semakin tinggi dosis obat yang diberikan, efek yang ditimbulkan obat semakin meningkat. Pada dosis 75 mg terdapat 1 mencit yang memperlihatkan efek obat. Pada dosis 150 mg terdapat 3 mencit yang memperlihatkan efek obat. Pada dosis 300 mg terdapat 2 mencit yang memperlihatkan efek obat. Waktu efek tiopental natrium lebih cepat pada dosis 300 mg dibandingkan dengan dosis 150 mg.

Pembahasan Grafik
Data grafik
No
Dosis (mg/Kg)
Log Dosis (x)
% Kematian (y)
1
75
1,875
14
2
150
2,176
57
3
300
2,477
75
Grafik yang di dapat menunjukkan bahwa seiring dengan penambahan dosis, maka rentang keefektifan obat makin tinggi dan mendekati efek toksik. Selain itu, rentang antara koordinat kedua dan ketiga (dosis 2 dan 3) serta hasil pengamatan menunjukkan bahwa rentang keefektifan obat pendek, dengan kata lain keamanan obat kurang baik. Karena, dilihat dari hasil pengamatan, dapat dianggap bahwa dosis kedua (150 mg/Kg) merupakan batas efektivitas obat (ED50), namun belum dapat dipastikan dengan benar nilai pasti ED50 nya karena belum sempat diuji spesifikkan terhadap dosis spesifik. Selain itu, dari data yang didapat, batas toksik obat diperkirakan ada pada dosi kedua (150 mg/Kg) karena pada dosis tersebut menimbulkan 57% kematian, namun belum dapat diambil dan LD50nya karena pengujiannya tidak dilakukan.

Pembahasan perhitungan
Dari hasil penimbangan mencit, didapat berat badan mencit 1 hingga 4 secara berurutan, yaitu : 28 g; 22,7 g; 32,3 g; dan 29,7 g. Kemudian, untuk menyesuaikan dosis obat dengan dosis yang diberikan kepada mencit, maka dosis di sesusaikan dengan berat badan mencit percobaan dibandingkan terhadap berat badan umum mencit. Kemudian, dikalikan batas maksimal pemberian dosis intraperitonial, yaitu 0,5. Batas ini diambil dengan harapan dosis ini cocok dan aman untuk hewan percobaan terhadap dosis obat. Berikut rumus yang digunakan :
Dengan perhitungan dari rumus tersebut, didapat variasi dosis sebagai berikut :
Mencit
Dosis Obat
Dosis yang diberikan
1
Fenobarbital 75 mg/Kg
0,7 mL
2
Fenobarbital 150 mg/Kg
0,56 mL
3
Fenobarbital 300 mg/Kg
0,8 mL
4
NaCl
0,74 mL

Pembahasan Hasil
Dari hasil pengamatan yang didapat, dapat diambil kesimpulan bahwa batas efektifitas obat berada pada dosis 150 mg/Kg dan rentang keamanan obat cukup pendek. Selain itu, batas toksik perkiraan berada pada dosis 150 mg/Kg namun LD50 tidak dapat ditentukan. Kemudian, dilihat dari segi waktu kehilangan righting reflex hewan uji yang lama, kemungkinan hal itu terjadi karena obat yang diberikan kurang merata, karena saat mengambil obat dengan suntikan, obat tidak dikocok terlebih dahulu sehinga penyebarannya kurang merata dan mengakibatkan efek obat berlangsung lama.

IX.        SIMPULAN
1.      Berdasarkan hasil percobaan pemberian dosis obat terhadap hewan percobaan yaitu mencit, LD50 dan ED50  tidak diperoleh karena datanya tidak mencukupi.
2.      Indeks terapi adalah rasio antara dosis yang menimbulkan kematian pada 50% dari hewan percobaan yang digunakan (LD50) dibagi dosis yang memberikan efek yang diteliti pada 50% dari hewan percobaan yang digunakan (ED50).
 Indeks terapi  
Semakin besar indeks terapi obat maka semakin besar efek terapeutiknya



DAFTAR PUSTAKA

Adnan.2011.Farmakologi.Tersedia di http://kesmasunsoed.blogspot.com/2011/02/ pengantar-farmakologi.html [diakses tanggal 20 Maret 2011]
Adriano. 2007. Sodium Thiopental. Tersedia di http://www.chm.bris.ac.uk/ motm/sodium-pentothal/sodiumjm.htm [diakses tanggal 20 Maret 2011]
Anonym. 2006. Obat Sedatif dan Hipnotik. Tersedia di http://medicastore.com /apotikonline/obat_saraf_otot/obat_bius.htm [diakses tanggal 20 Maret 2011]
Kee, Joyce L dan Evelyn R. Hayes. 1994. Farmakologi, Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
Martindale, William. 1996. Martindale: The Extra Pharmacopoeia. UK : Royal Pharmaceutical Society

Schmitz, Gary Hans Lepper dan Michael Heidrich. 2003. Farmakologi dan Toksikologi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC