More Text

Unordered List

Unordered List

BTricks

BThemes

Powered by Blogger.

Blog Archive

About Me

My photo

Just An Ordinary People
But I Have A Dream
And Someday, I Believe The Dream Will Be Come True :D

Archives

Tuesday, July 9, 2013

LAPORAN PRAKTIKUM PENGUJIAN EFEK ANTIDEPRESI | Farmakologi



I.                   Tujuan
Setelah menyelesaikan percobaan ini, diharapkan mahasiswa dapat mengetahui sampai sejauh mana aktivitas obat antidepresi pada hewan percobaan

II.                Prinsip
Obat anti depresan mengurangi depresi pada hewan coba yang mengalami depresi.

III.             Teori Dasar
Pada penyakit psikis terjadi gangguan neurotransmitter,terutama pada monoamin aromatik yaitu dopamine, noradrenalin, dan serotonin. Psikofarmaka akan berinteraksi dengan penghantar rangsang fisiologik dan akan bekerja pada pengaturan saraf sehingga kesetimbangan neurotransmitter yang terganggu akan diperbaiki,tidak mempunyai  kemampuan untuk menyembuhkan penyakit psikis,hanya mempengaruhi gejala tujuan tertentu seperti halusinasi (Mutcler,1991).
Depresi adalah  suatu kondisi medis-psikiatris dan bukan sekedar suatu keadaan sedih, bila kondisi depresi seseorang sampai menyebabkan terganggunya aktivitas sosial sehari-harinya maka hal itu disebut sebagai suatu Gangguan Depresi. Beberapa gejala gangguan depresi adalah perasaan sedih, rasa lelah yang berlebihan setelah aktivitas rutin yang biasa, hilang minat dan semangat, malas beraktivitas, dan gangguan pola tidur. Gejalanya tidak disebabkan oleh kondisi medis, efek samping obat, atau aktivitas kehidupan. Kondisi yang cukup parah menyebabkan gangguan klinis yang signifikan atau perusakan dalam keadaan sosial, pekerjaan, atau bidang-bidang penting lainnya (Yustinus, 2006).
Pengobatan untuk gangguan cemas dan gangguan depresi perlu meliputi ketiga aspek yang mempengaruhi kejiwaan seseorang. Pendekatan biologis, psikologis dan sosial (termasuk spiritual) adalah hal yang tidak bisa dilepaskan pada pengobatan pasien-pasien tersebut (Andri, 2012).
Antidepresan merupakan obat-obat yang efektif pada pengobatan depresi, meringankan gejala gangguan depresi, termasuk penyakit psikis yang dibawa sejak lahir. Antidepresan digunakan untuk tujuan klinis dalam sejumlah indikasi termasuk:
•           Untuk mengurangi perasaan gelisah, panik, dan stres.
•           Meringankan insomnia
•           Untuk mengurangi kejang/ serangan dalam perawatan epilepsi.
•           Menyebabkan relaksasi otot pada kondisi ketegangan otot.
•           Untuk menurunkan tekanan darah dan atau denyut jantung.
•           Untuk meningkatkan mood dan atau meningkatkan kesupelan                                                                                                                 
(Mutchler, 1991).
JENIS ANTIDEPRESAN

dan sekelompok antidepresan lain yang tidak termasuk tiga kelas pertama. Indikasi klinis utama untuk penggunaan antidepresan adalah penyakit depresif mayor. Obat ini juga berguna dalam pengobatan gangguan panik, gangguan ansietas (cemas) lainnya dan enuresis pada anak-anak. Berbagai riset terdahulu menunjukkan bahwa obat ini berguna untuk mengatasi gangguan deficit perhatian pada anak-anak dan bulimia serta narkolepsi.
Anti deprasan seperti amitriptilin juga memiliki efek anti kejang. Golongan ini digunakan pada pasien yang depresi dan juga mengalami kecemasan, atau untuk penggunaan jangka lama dimana dikhawatirkan timbul ketergantungan bila menggunakan benzodiazepine. Inhibitor MAO seperti meclobemid sangat berguna pada pasien depresi dengan fobia. Selektif serotonin reuptake inhibitor (SSRI) seperti citaloram bisa digunakan untuk serangan panic. Antidepresan Trisiklik adalah sejenis obat yang digunakan sebagai antidepresan sejak tahun 1950an. Dinamakan trisiklik karena struktur molekulnya mengandung 3 cincin atom. (Staf Pengajar FK UNSRI, 2004).
Mekanisme kerja ATS tampaknya mengatur penggunaan neurotransmiter norepinefrin dan serotonin pada otak. Manfaat Klinis dengan riwayat jantung yang dapat diterima dan gambaran EKG dalam batas normal, terutama bagi individu di atas usia 40 tahun, ATS aman dan efektif dalam pengobatan penyakit depresif akut dan jangka panjang. Reaksi yang merugikan dan pertimbangan keperawatan, perawat harus mampu mengetahui efek samping umum dari anti depresan dan mewaspadai efek toksik serta pengobatannya. Obat ini menyebabkan sedasi dan efek samping antikolinergik, seperti mulut kering, pandangan kabur, konstipasi, retensi urine, hipotensi ortostatik, kebingungan sementara, takikardia, dan fotosensitivitas. Kebanyakan kondisi ini adalah efek samping jangka pendek dan biasa terjadi serta dapat diminimalkan dengan menurunkan dosis obat. Efek samping toksik termasuk kebingungan, konsentrai buruk, halusinasi, delirium, kejang,depresi pernafasan, takikardia,bradikardia dan koma.Contoh obat-obatan yang tergolong antidepresan trisiklik diantaranya adalah amitriptyline, amoxapine, imipramine, lofepramine, iprindole, protriptyline dan trimipramine.  (Mutchler,1991).

Selektif serotonin reuptake inhibitor (SSRI) 
Diduga SSRI meningkatkan 5-HT di celah sinaps, pada awalnya akan meningkatkan aktivitas autoreseptor yang justru menghambat pelepasan 5-HT sehingga kadarnya turun dibanding sebelumnya. Tetapi pada pemberian terus menerus autoreseptor akan mengalami desensitisasi sehingga hasilnya 5-HT akan meningkat dicelah sinaps di area forebrain yang menimbulkan efek terapetik. Contoh obat-obat yang tergolong SSRI diantaranya adalah fluoxetine, paroxetine, dan sertraline (Mutchler,1991).

Monoamine oxidase inhibitor (MAO inhibitor)
MAOIs secara nonselektif mengeblok MAO A dan B isoenzym dan memiliki efek antidepresan yang mirip dengan antidepresan trisiklik. Namun, MAOIs bukan obat pertama terapi antidepresan karena pasien yang menerima harus disertai dengan diet rendah tiramin untuk mencegah krisis hipertensi karena MAOIs membawa resiko interaksi obat dengan obat lain. MAOI tidak bersifat spesifik dan akan menurunkan metabolisme barbiturate, analgesic opioid dan alkohol. Meclobamid menghambat MAO A secara selektif dan reversible, relative aman dengan efek samping utama pusing, insomnia, dan mual. Contoh obat-obat MAOIs diantaranya phenelzine, dan tranylcypromine (Mutchler, 1991).
Yang harus diperhatikan saat Anda mengkonsumsi antidepresan:
1. Pastikan dokter tahu tentang masalah kesehatan pasien yang lainnya agar ia tahu apakah obat yang akan dipengaruhinya bisa mempengaruhi penyakit yang lain atau tidak.

2. Jangan mengkonsumsi obat lain tanpa berbicara dengan dokter terlebih dahulu. 
3. Jangan minum alkohol atau menggunakan obat-obatan terlarang (Sondang, 2012).

IV. Alat dan Bahan
4.1 Alat
1. Kapas
2. Syringe
3. Neraca
4. Stopwatch
5. Tabung berdiameter 20 cm

4.2 Bahan
1. Amitriptilin (3,25 mg/kg BB dan 1,625 mg/kg BB)
2. Alkohol
3. Aquadest
4. PGA 2%

4.3 Hewan Percobaan
Mencit

4.4 Gambar Alat













V. Prosedur
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah sehari sebelum percobaan mencit yang akan diuji dimasukkan terlebih dahulu ke dalam tabung yang berisi air setinggi 8 cm selama 5 menit. Kemudian keesokan harinya mencit ditimbang dan ditandai, serta dihitung volume obat yang harus diberikan. Lalu mencit dibagi menjadi 3 kelompok yaitu, kelompok kontrol dan kelompok Amitriptilin dosis rendah, dan kelompok Amitriptilin dosis tinggi. Kelompok kontrol diberikan PGA 2% secara intraperitonial, kelompok Amitriptilin dosis rendah diberikan Amitriptilin 1,625 mg/kg BB, sedangkan kelompok Amitriptilin dosis tinggi diberikan Amitriptilin 3,25 mg/kg BB. Kemudian mencit didiamkan selama 1 jam. Setelah 1 jam, mencit dimasukkan ke dalam tabung plastik yang berisi air setinggi 8 cm, lalu diamati dan dihitung berapa lama mencit diam setiap 5 menit selama 15 menit. Diamnya mencit di dalam air, dianggap sebagai gejala depresi dari mencit tersebut. Kemudian hasil pengamatan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik.

VI. Data Pengamatan

Kelompok
Pemberian
Bobot
Mencit
(gram)
5’
10’
15’

I
PGA 2%
1. 24,9
160
264
294

2. 15
42
71
164

3. 19,6
22
176
268
Σ
74,67
170,33
242
487
II
Amitriptilin 3,25 mg/kgBB
1. 14,1
8
60
119

2. 12,2
25
141
167

3. 16,9
83
202
206
Σ
38,67
134,33
164
337
III
Amitriptilin 1,625 mg/kgBB
1. 18,4
-
-
-

2. 15,8
34
58
79

3. 20
137
203
231
Σ
85,5
130,5
155
371





















VII.       Pembahasan
Praktikum kali ini berjudul Pengujian Antidepresi. Bertujuan mengetahui sejauh mana aktivitas antidepresi pada hewan percobaan. Obat-obat antidepresan  berkemampuan untuk menurunkan perasaan tertekan secara psikis yang dimanifestaskan meningkatnya aktivitas motorik dan perbaikan mood.
Terdapat beberapa percobaan yang bisa dilakukan untuk melihat aktivitas obat-obat antidepresan, antara lain uji renang, uji waterwheel dan uji rotary road.
Untuk yang metode uji water wheel yang diamati adalah waktu yang diperlukan hewan untuk tetap bertahan melawan arus air pada kincir angin yang digerakkan dengan kecepatan tertentu. Sedangkan untuk metode rotary road yang diamati adalah waktu yang diperlukan hewan untuk tetap bertahan melawan putaran alat rotary road yang berlawanan arah dengan kecepatan tertentu. Namun pada percobaan kali ini dilakukan uji renang. Persamaan dari tiga metode uji ini adalah dengan pemberian obat antidepresan waktu yang diperlukan oleh hewan uji untuk melawan pergerakan yang disebabkan masing- masing alat  menjadi semakin panjang dibandingkan terhadap kontrol atau dengan kata lain aktivitas motorik hewan uji menjadi lebih tinggi dibandingkan kontrol.
Untuk metode uji renang, prosedur pertama, satu hari sebelum percobaan hewan uji mencit dimasukkan ke dalam tabung silinder berisi air kemudian dibiarkan untuk berenang selama lima menit. Tujuannya untuk mengadaptasikan mencit. Pada hari percobaan, mencit uji dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif, kelompok amitriptilin dosis I dan kelompok amitriptilin dosis II.Pada 0 menit mencit disuntikkan secara intra peritoneal PGA 2% untuk kelompok kontrol negatif, amitriptilin dosis 3,25 mg/kgBB untuk kelompok amitriptilin dosis I dan amitriptilin dosis 1,625 mg/kgBB untuk kelompok amitriptilin dosis II. Dipilih cara intraperitonial karena cara ini efisien dan memiliki bioavabilitas yang sama dengan intravena tetapi lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan intravena, khususnya terhadap mencit. Sedangkan dibandingkan dengan cara oral, biovabilitas secara intraperitoneal lebih besar. Selanjutnya mencit uji dibiarkan selama 1 jam untuk menunggu obat memberikan efek.
Setelah 1 jam, mencit uji dimasukkan kedalam tabung silinder berisi air setinggi 8 cm dengan suhu 25o C. kemudian mencit dibiarkan berenang. Pada saat tubuh mencit terendam air, secara spontan mencit akan menggerakkan kaki dan tangannya untuk berenang dan berusaha keluar dari air. Namun saat-saat tertentu mencit akan menghentikkan gerakkan kaki dan tangannya, menunjukkan sikap yang pasif. Pada saat itulah mencit dianggap mengalami depresi. Pengamatan percobaan dilakukan dengan membiarkan mencit berenang selama 15 menit. Setiap 5 menit, dihitung dengan stopwatch,lamanya waktu mencit uji mengalami depresi, sehingga diperolehlah data lamanya depresi tiap mencit pada menit ke-5, ke-10 dan ke-15. Data dicatat dalam tabel pengamatan kemudian dihitung persentase aktivitas dan persentase inhibisidari setiap kelompok mencit.
Selanjutnya data dianalisis berdasarkan analisis varians dan dianalisis dengan Student’s t-test untuk mengetahui perbedaan yang bermakna antara perlakuan bahan uji dan kontrol. Data disajikan pula dalam bentuk grafik.
Dari data pengamatan pada kelompok control negatif yang diberikan larutan PGA 2% sebagai ganti obat uji, mencit dengan bobot 15 gram yang mengalami depresi mengalami peningkatan waktu dalam penurunan pergerakan pada selang waktu tertentu (t=5’, t=10’, dan t=15’) yaitu sebanyak 42 detik, 71 detik, 164 detik. Hal ini telah sesuai karena pada control negative hanya diberikan PGA 2 % yang tidak memberikan pengaruh terhadap pengurangan depresi dari mencit yang diamati dari perubahan mencit menjadi tidak banyak bergerak. Dengan mencit yang hanya diberikan PGA 2%, maka depresi yang terjadi akan semakin parah dan mencit lebih statis saat diberenangkan. Pada seluruh kelompok uji negatif juga menunjukkan hasil yang sama yaitu 74,67 detik; 170,33 detik; dan 242 detik. Pada mencit yang diberikan Amitriptilim 3,25 mg/kg BB pada pengukuran waktu mencit saat tenang juga mengalami kenaikan. Pada mencit dengan bobot 12,2 gram, hasil pengamatan yang didapat yaitu 25 detik; 141 detik; dan 167 detik. Begitu pula pada seluruh kelompok mencit uji. Hal ini sesuai dengan hipotesis bahwa semakin lama mencit diberenangkan, semakin depresi juga mencit tersebut. Pada mencit dengan bobot 15,8 gram yang diberikan Amitriptilin 1,625 mg/kg BB, hasil pengamatan yang didapat yaitu 34 detik; 58 detik; dan 79 detik. Sama halnya terhadap seluruh kelompok mencit uji. Pada perbandingan kelompok uji, mencit yang diberikan Amitriptilin pada dosis 3,25 mg/kg BB lebih banyak menunjukkan efek antidepresi dibandingkan dengan pemberian dosis Amitriptilin 1,625 mg/kg BB yang dilihat dari lebih banyaknya jumlah pergerakan. Uji mencit terhadap obat uji antidepresan Amitriptilin didapatkan persentase aktivititas Amitriptilin pada dosis 3,25 mg/kg BB sebesar 69,19 % dan pada dosis 1,625 mg/kg BB sebesar 76,18 %. Nilai persentase aktivitas yang diatas 50 % tersebut menunjukkan bahwa Amitriptilin tidak cukup efektif dalam memberikan efek antidepresi karena persentase aktivitas yang baik haruslah 50 %.
Data yang diperoleh juga kemudian diolah untuk mendapatkan persen inhibisi. Pada persen inhibisi dengan obat uji Amitriptilin 3,25 mg/kg BB didapatkan persentase sebesar 30,81 % dan pada Amitriptilin 1,625 mg/kg BB didapatkan persentase sebesar 23,82 %. Persentase inhibisi obat antidepresi menunjukkan kemampuan obat uji dalam menginhibisi depresi. Nilai yang ideal untuk persentase inhibisi juga sama dengan persentase aktivitas yaitu 50 %. Hal ini dapat terjadi dikarenakan pemberian obat antidepresi secara intraperitoneal belum  tepat dan mencit yang diberenangkan ke dalam air tidak seragam untuk setiap waktunya sehingga perhitungan waktu depresi menjadi kurang akurat.
            Grafik 1 merupakan grafik waktu diam masing-masing kelompok dimana sumbu X nya adalah kelompok sediaan uji sedangkan sumbu Y nya merupakan waktu diam. Pada grafik 1, dapat dilihat bahwa dari ketiga kelompok mencit yang diuji, ketiganya menunjukkan terjadinya depresi  yang ditandai dengan adanya waktu diam, waktu diam yang paling lama terjadi pada kelompok 1 yang diberi suspensi PGA 2 % , pada pemberian amitriptilin 3,25mg/kg BB dan amitriptilin 1,625mg/KgBB waktu diam yang paling lama terjadi pada kelompok 3. Pemberian PGA 2% pada kelompok 1, 2, dan 3 mempunyai total waktu  diam yang lebih tinggi dibandingkan kelompok mencit yang diberikan amitriptilin 1,625 mg/KgBB dan amitriptilin 3,25 mg/kg BB. Hal Ini dikarenakan amitriptillin memiliki efek antidepresan, sehingga menghambat terjadinya depresi pada mencit yang ditandai dengan rendahnya waktu diam. Sedangkan dengan pemberian amitriptilin 3,25 mg/kgBB  memiliki total waktu diam  yang lebih tinggi dibandingkan pada pemberian amitriptillin 1,625 mg/KgBB. Padahal seharusnya, amitriptillin 3,25 mg/kgBB dapat menghambat terjadinya depresi yang lebih baik karena dosisnya lebih tinggi sehingga waktu depresinya berkurang atau waktu diamnya rendah. Pada kelompok 1 yang diberikan amitriptilin 1,625 mg/kg BB tidak terdapat grafik batangnya dikarenakan matinya mencit saat melakukan percobaan sehingga tidak terdapat data berupa waktu diam. Dapat dilihat juga pada kelompok 3 terjadi perbedaan hasil percobaan dengan teorinya dimana waktu diam yang paling tinggi terjadi pada pemberian amitriptilin 1,625 mg/kgBB dan waktu diam yang paling rendah PGA 2%. Selanjutnya juga terdapat perbedaan pada kelompok 2 dimana waktu diam PGA 2% lebih rendah dari pada Amitriptilin 1,625mg/kg BB yang seharusnya waktu diam PGA 2% lebih tinggi.
            Pada grafik 2 merupakan grafik waktu diam terhadap waktu pengamatan. Pada grafik 2 dapat dilihat bahwa pada pemberian PGA 2% mempunyai waktu diam yang paling tinggi dari pemberian sediaan uji yaitu amitriptilin 1,625mg/KgBB dan 3,25 mg/kgBB. Tetapi pada waktu 5 menit pemberian PGA 2% waktu diamnya lebih rendah daripada amitrptilin 1,625mg/kgBB pada 5 menit, yang seharusnya pada waktu 5 menit PGA 2% mempunyai waktu diam yang lebih tinggi dari waktu diam sediaan uji lainnya. Dapat dilihat grafik 2 mempunyai kesamaan dengan grafik 1 dimana pemberian amitriptilin 3,25 mg/KgBB mempunyai waktu diam yang lebih tinggi dari waktu diam pemberian amitriptillin 1,625 mg/KgBB.


X. KESIMPULAN

1.  Aktivitas obat antidepresi amitriptilin terhadap mencit yaitu mengurangi depresi mencit, ditandai dengan lamanya waktu diam mencit dalam wadah berisi air yang lebih pendek.

2.      Efek pemberian amitriptilin dalam dua dosis yang berbeda yaitu pada dosis 3,25 mg/kg BB lebih baik daripada dosis 1,625 mg/kg BB, yang terlihat pada persen inhibisi. Persen inhibisi dosis 3,25 mg/kg BB adalah 30,81% sedangkan persen inhibisi dosis 1,625% adalah 23,82%.






DAFTAR PUSTAKA

Dr Andri Sp KJ.2012.Obat Antidepresan dan seluk beluknya. Tersedia di http:// health.kompas.com/read/2012/07/02/17544067/Obat.Antidepresan.dan.Seluk.Beluknya . Diakses 6 Mei 2013
Mutchler, Ernst. 1991. Dinamika Obat Edisi Kelima. Penerbit ITB. Bandung
Semiun, Drs Yustinus. 2006. Kesehatan Mental 2. Penerbit Kanisius. Yogyakarta
Sondang, 2012. Tersedia di http://www.tabloidnova.com/Nova/Kesehatan/Umum/ Depresi-Atasi-Efek-Samping-Antidepresan. Diakses 6 Mei 2012
Staf Pengajar Departemen Farmakologi.2004.Kumpulan Kuliah Farmakologi, Edisi 2. Penerbit EGC. Jakarta