More Text

Unordered List

Unordered List

BTricks

BThemes

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto Saya

Just An Ordinary People
But I Have A Dream
And Someday, I Believe The Dream Will Be Come True :D

Rabu, 05 Juni 2013

Makalah ANALISIS KADAR ZAT AKTIF ERITROMISIN DALAM SEDIAAN SALEP TOPIKAL ERITROMISIN | Analisis Farmasi


Analisis Zat Aktif  Dalam Sediaan Salep Eritromisin



I.                   Introduction

Salep topikal Akne-mycin (erythromycin) mangandung  erythromycin yang didapat dari Streptomyces erythraeus. Akne-mycin dikemas dalam tube 25 gram . disimpan pada suhu dibawah 27°C (80°F).
Salep topikal eritromisin mengandung antara lain : 20 mg erythromycin ,mineral oil,petrolatum paraffin talcum titanium dioxide trilaureth 4 phosphateoleyl oleate tricetareth 4 phosphate cetostearylalcohol dan sorbitol.
Analisis salep eritromisin dilakukan dengan menggunakan metode kromatografi kinerja tinggi dengan prosedur pemisahan zat aktif dan pengisi dari salep terlebih dahulu, kemudian di larutkan dalam pelarut yang sesuai dan dianalisis dengan eluen yang sesuai pula.

II.                Monografi Zat Aktif
Nama               : Erythromycinum
Formula            : C37H67NO13
Berat Molekul : 733,94



Struktur            :

Pemerian         : Serbuk hablur putih agak kuning, tidak berbau atau praktis tidak berbau
Kelarutan        : Sukar larut dalam air, larut dalam etanol, dalam klorofom dan dalam eter
Identifikasi      : Spektrum serapan inframerah zat yang telah dikeringkan pada tekanan tidak lebih dari 5 mmHg pada suhu 60o selama 3 jam dan dilarutkan dalam kloroform pekat hingga kadar lebih kurang 1% dan diukur dengan sel 1,0 mm, menunjukkan maksimun hanya pada panjang gelombang yang sama seperti pada eritromisin BPFI (Departemen Kesehatan Indonesia,1995)
            Eritromisin termasuk antibiotika golongan makrolid dan efektif baik untuk kuman gram positif maupun gram negatif. Antibiotika ini dihasilkan oleh Streptomyceserythreus dan digunakan untuk pengobatan akne. Eritromisin berikatan dengan ribosom 50S bakteri dan menghalangi translokasi molekul peptidil-tRNA dari akseptor ke pihak donor, bersamaan dengan pembentukan rantai polipepetida dan menghambat sintesis protein. Eritromisin juga memiliki efek anti-inflamasi yang membuatnya memiliki kegunaan khusus dalam pengobatan akne (IAI,2010)

III.             Metode Analisis
A.     Pre-treatment (preparasi sampel)




Secara rinci dibagi menjadi dua cara yaitu          :
1.      Melarutkan basis salep
Salep ditimbang dan dimasukkan ke dalam beakr glass. Kemudian dimasukkan cera dan air ke dalam beaker glass tersebut. Dipanaskan sampai cera melarut di atas lapisan air. Didinginkan. Basis salep yang terbawa di atas beaker glass akan membeku dan dipisahkan dari basis larut airnya.
2.      Melarutkan zat aktif
Salep ditimbang dan dimasukkan ke dalam mortir. Dimasukkan ke dalam mortir tersebut sejumlah etanol dan digerus. Etanol dipilih karena eritromisin  mudah larut dalam etanol. Kemudian disaring dan diambil larutan hasil penyaringan. Siap untuk dianalisis.

B.     Uji Kualitatif
Reaksi pendahuluan      : sampel + H2SO4 pekat à warna-warna Reaksi spesifik          :
1.      + H2SO4 pekat di dalam lemari asam          à hitam pekat
2.      + HNO3 pekat à kuning + air à hijau
(Laboratorium KFA UNPAD, 2009)

C.     Uji Kuantitatif Penentuan Kadar
Lakukan degassing campuran acetonitrite dan air (90:10), simpan direservoir yang terlindung dari udara (bebas udara) kemudian campuran ini disebut sebagai Larutan A .
Kemudian ke dalam 1000 ml degassed water tambahkan 0,5 ml larutan naoh ( 1 in 2) menggunakan syringe dan needle yang sesuai untuk minimalisir kontak dengan udara lalu degas, dan simpan direservoir terlindung dari udara, ini adalah Larutan B.
Larutan C, buat dengan menggunakan degassed water simpan direservoir yang terlindung dari udara.
Fase gerak yang digunakan adalah  larutan A, C dan B dari reservoir dengan rasio 56 : 37 :7
1.      Diluent : siapkan campuran metanol dan air (50:50)
2.      Standar preparasi : siapkan larutan erytromisin secara kuantitatif sehingga diketahui konsentrasinya 0,66 mg per ml.
3.      Preparasi standar eritromisin B dan C : siapkan larutan dengan konsentrasi terukur sebesar 34 µg per ml
4.      Sistem suitabilitysolution  : timbang 2 mg eritromisin, masukkan ke labu ukur 10 ml lalu tambahkan 0,4 ml preparasi standar dan 6 ml standar eritromisin B dan C kocok. Dilute dengan preparasi standar eritromisin B dan C hingga batas volume. Kocok
5.      Preparasi assay:
Masukan salep yang ekuivalen dengan 60 mg eritromisin ke dalam 125 ml labu pisah. Tambahkan 50 ml pelarut heksan kocok labu. Ambil 20 ml eksrak lalu tampung ekstrak di labu ukur 100 ml. Larutkan sampai volume labu ukur, kemudan saring dan ambil bagian yang jernih untuk dianalisis dengan ketentuan kecepatan alir 1 ml/menit (Gilbert., USP 30-NF25 page 2061)

IV.              Evaluasi
Hitung kadar eritromisin dengan menghitung area under curve, atau respon instrumen. sedangkan pengujuan kualitatif juga dapat berparameter pada waktu retensi. Bandingkan dengan standar, pengujian dapat dilakukan dengan metode kurva baku karena sampel mengandung analit tunggal.




Daftar Pustaka

Brian D, Gilbert. USP 30-NF25 page 2061. Pharmacopeial forum volume no.28
(2) page 297

Departemen Kesehatan Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

IAI. 2010. Informasi Spesialite Obat (ISO) Indonesia Volume 45-2010 s/d 2011. PT ISFI Penerbit. Jakarta

Laboratorium KFA UNPAD. 2009. Panduan Praktikum Kimia Farmasi Analisis Kualitatif dan Reaksi Warna. Fakultas Farmasi UNPAD. Jatinangor