More Text

Unordered List

Unordered List

BTricks

BThemes

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto Saya

Just An Ordinary People
But I Have A Dream
And Someday, I Believe The Dream Will Be Come True :D

Kamis, 13 Juni 2013

LAPORAN PRAKTIKUM PEMBUATAN TABLET DENGAN BAHAN AKTIF TUNGGAL MENGGUNAKAN METODA GRANULASI KERING | TEKNOLOGI FORMULASI SEDIAAN SOLID



PEMBUATAN TABLET DENGAN BAHAN AKTIF TUNGGAL MENGGUNAKAN METODA GRANULASI KERING



I.          TUJUAN PERCOBAAN
1 Mengetahui cara pembuatan tablet dengan­­ metode granulasi kering.
2  Melakukan uji Quality Control (QC) terhadap tablet.

II.      PRINSIP PERCOBAAN
     Metode granulasi kering
Granulasi kering, yaitu metode yang memproses partikel zat aktif dan eksipien dengan mengempa campuran bahan kering menjadi massa padat, selanjutnya dipecah lagi untuk menghasilkan partikel yang berukuran lebih besar dari serbuk semula (granul).
     Evaluasi granul
Evaluasi granul mencakup uji susut pengeringan, uji laju alir, uji distribusi granul, dan uji kerapatan
      Evaluasi tablet berdasarkan standar quality control (QC) :
Evaluasi tablet mencakup uji keseragaman bobot, keseragaman ukuran, uji kekerasan, uji friabilitas, dan uji waktu hancur
 
III.   TEORI DASAR

     Tablet adalah sediaan  padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obatatau lebih dengan atau  tanpa zat tambahan. Zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai zat pengisi, zat pengembang, zat pengikat, zat pelicin, zat pembasah atau zat lain yang cocok (FI III,1979).
     Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi.Berdasarkan metode pembuatan dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa. Tablet merupakan bentuk sediaan farmasi yang paling banyak tantangannya didalam mendesain dan membuatnya. Misalnya kesukaran untuk memperoleh bioavailabilitas penuhdan dapat dipercaya dari obat yang sukar dibasahi dan melarutkannya lambat, begitu juga kesukaran untuk mendapatkan kekompakan kahesi yang baik dari zat amorf atau gumpalan.
     Namun demikian, walaupun obat tersebut baik kempanya, melarutnya, dan tidak mempunyai masalah bioavailabilitas, mendesain dan memproduksi obat itu masih penuh tantangan, sebab masih banyak tujuan bersaing dari bentuk sediaan ini (FI IV,1995).
     Metode granulasi kering disebut juga slugging, merupakan salah satu  metodepembuatan tablet dengan cara mengempa campuran bahan kering (partikel zat aktif dan eksipien) menjadi massa padat yang selanjutnya dipecah lagi untuk menghasilkan partikel yang berukuran lebih besar (granul) dari serbuk semula. Prinsip dari metode ini adalah membuat granul secara mekanis, tanpa bantuan bahan pengikat dan pelarut, ikatannya didapat melalui gaya (Kloe,2010).
     Pada proses ini komponen-komponen tablet dikompakkan dengan mesin cetak tablet lalu ditekan ke dalam die dan dikompakkan dengan punch sehingga diperoleh massa yang disebut slug, prosesnya disebut slugging, pada proses selanjutnya slug kemudian diayak dan diaduk untuk mendapatkan granul yang daya mengalirnya lebih baik dari campuran awal. Bila slug yang didapat belum memuaskan maka proses diatas dapat diulang (Kloe,2010).
Keuntungan granulasi kering adalah :

  •     Peralatan lebih sedikit karena tidak menggunakan larutan pengikat, mesin pengaduk berat dan pengeringan yang memakan waktu
  •     Baik untuk zat aktif yang sensitif terhadap panas dan lembab
  •     Mempercepat waktu hancur karena tidak terikat oleh pengikat

       Kekurangan granulasi kering adalah :
  • Memerlukan mesin tablet khusus untuk membuat slug
  • Tidak dapat mendistribusikan zat warna seragam
  • Proses banyak menghasilkan debu sehingga memungkinkan terjadinya kontaminasi silang (Kloe,2010).
     Granulasi adalah pembentukan partikel-partikel besar dengan mekanisme pengikatan tertentu. Granul dapat diproses lebih lanjut menjadi bentuk sediaan granul terbagi, kapsul, maupun tablet. Berbagai proses granulasi telah dikembangkan, dari metode konvensional seperti slugging dan granulasi dengan bahan pengikat musilago amili hingga pembentukan granul dengan peralatan terkini seperti spray dry dan freeze dry. Granulasi peleburan atau hot melt granulation merupakan metode pembentukan dispersi padat berbentuk granulat dengan bahan pengikat yang melebur di atas suhu kamar. Granulasi peleburan ini dapat digunakan untuk membentuk granul dengan bahan pengikat hidrofob seperti lemak dan wax dengan tujuan penyalutan dan/ atau pembentukan matriks sediaan pelepasan dimodifikasi (modified release drug). Keunggulan dari granulasi peleburan ini adalah : tidak membutuhkan bahan pelarut, tidak memerlukan  proses pengeringan, dan prosesnya berlangsung cepat serta bersih (Kloe,2010).

Pemeriksaan kualitas granul
     Bahan obat sebelum ditablet, pada umumnya dicampur terlebih dahulu, bentuk serbuk yang seragam, menyebabkan keseragaman pada bentuk tablet (Voigt, 1984).
Persyaratan serbuk yang baik adalah bentuk dan warna teratur, memiliki daya alir yang baik (free flowing), menunjukkan kekompakan mekanis yang memuaskan, tidak terlampau kering, dan hancur baik di dalam air (Voigt, 1984).
Beberapa uji yang biasa digunakan untuk mengetahui kualitas fisik serbuk antara lain:
1). Waktu alir serbuk
Parameter yang digunakan untuk mengevaluasi massa tablet adalah pemeriksaan laju alirnya. Massa tablet dimasukkan sampai penuh ke dalam corong alat uji waktu alir dan diratakan. Waktu yang diperlukan seluruh massa untuk melalui corong dan berat massa tersebut dicatat. Laju alir dinyatakan sebagai jumlah gram massa tablet yang melalui corong perdetik (Lachman et al, 1994).

2). Sudut diam serbuk
Sudut diam merupakan sudut tetap yang terjadi antara timbunan partikel bentuk kerucut dengan bidang horizontal. Jika sejumlah granul atau serbuk dituang ke dalam alat pengukur, besar kecilnya sudut diam dipengaruhi oleh bentuk ukuran dan kelembaban serbuk. Bila sudut diam lebih kecil atau sama dengan 30° menunjukkan bahwa serbuk dapat mengalir bebas, bila sudut lebih besar atau sama dengan 40° biasanya daya mengalirnya kurang baik (Lachman et al, 1994).

3). Pengetapan serbuk
Pengukuran sifat alir dengan metode pengetapan/tapping terhadap sejumlah serbuk dengan menggunakan alat volumeter/mechanical tapping device. Pengetapan dilakukan dengan mengamati perubahan volume sebelum pengetapan (Vo) dan volume setelah konstan (Vt) (Sulaiman,2007).

Uji Fisik Tablet

1). Keseragaman ukuran tablet
Diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 1/3 tebal tablet

2). Kekerasan
Uji kekuatan tablet yang mencerminkan kekuatan tablet secara keseluruhan, yang diukur dengan memberikan tekanan pada tablet (Sulaiman,2007).
3). Kerapuhan (friability)
Kerapuhan merupakan parameter yang menggambarkan kekuatan permukaan tablet dalam melawan berbagai perlakuan yang menyebabkan abrasi pada permukaan tablet. Kerapuhan dapat dievaluasi dengan menggunakan friabilator. Tablet yang akan diuji sebanyak 20 tablet, terlebih dahulu dibebas debukan dan ditimbang. Tablet tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam friabilator, dan diputar sebanyak 100 putaran (4 menit). Tablet tersebut selanjutnya ditimbang kembali, dan dihitung prosentase kehilangan bobot sebelum dan sesudah perlakuan. Tablet dianggap baik bila kerapuhan tidak lebih dari 1 % (Sulaiman, 2007).
4). Keseragaman bobot
Farmakope Indonesia memberi aturan cara uji keseragaman bobot dan batas toleransi yang masih dapat diterima, yaitu tablet tidak bersalut harus memenuhi syarat keseragaman bobot yang ditetapkan sebagai berikut : timbang 20 tablet satu per satu, hitung bobot rata-ratanya dan penyimpangan bobot rataratanya. Persyaratan keseragaman bobot terpenuhi jika tidak lebih dari dua tablet yang masing-masing bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari harga yang ditetapkan pada kolom A, dan tidak satu pun tablet yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar dari harga yang ditetapkan pada kolom B. Apabila tidak mencukupi dari 20 tablet, dapat digunakan 10 tablet, tidak satu tabletpun yang bobotnya menyimpang lebih dari bobot rata-rata yang ditetapkan pada kolom B (Tabel 1) (Sulaiman, 2007)
5). Waktu hancur
Suatu sediaan tablet yang diberikan peroral, agar dapat diabsorbsi maka tablet tersebut harus terlarut (terdisolusi) atau terdispersi dalam bentuk molekular. Tahap pertama untuk tablet agar dapat terdisolusi segera adalah tablet harus hancur (Sulaiman, 2007).
Tablet yang akan diuji (sebanyak 6 tablet) dimasukkan dalam tiap tube, ditutup dengan penutup dan dinaik-turunkan ke ranjang tersebut dalam medium air dengan suhu 37oC. Dalam monografi yang lain disebutkan mediumnya merupakan simulasi larutan gastrik (gastric fluid). Waktu hancur dihitung berdasarkan tablet yang paling terakhir hancur. Pernyaratan waktu hancur untuk tablet tidak bersalut adalah kurang dari 15 menit, untuk tablet salut gula dan salut nonenterik kurang dari 30 menit. Sementara untuk tablet salut enterik tidak boleh hancur dalam waktu 60 menit dalam medium asam, dan harus segera hancur dalam medium basa (Sulaiman, 2007).

IV.  ALAT BAHAN

        4. 1 Alat :                                                            4.2 Bahan :
 1. Disentigrator tester                                         1. Amprotab
 2. Flow tester                                                      2. Avicel PH 102
 3. Friabilator                                                      3. Ibuprofen
 4. Hardness tester                                               4. Mg stearat
 5. Jangka sorong digital                                    5. Starch RX 1500
 6. Moisture balance                                             6. Talkum
 7. Tap Density tester                                          
 8. Timbangan digital


4.3   Gambar alat :





             4.3.3  Friabilator                            4.3.4 Hardness Tester      





                 

   4.3.5 Jangkasorong Digital                       4.3.6 Moisture Balance     
                


 



4.3.7 Timbangan Digital                   4.3.8 Tap Density Tester 





V. PROSEDUR

            Pembuatan granul
            Ayak bahan sebelum ditimbang menggunakan neraca analit. Kemudian timbang fase dalam. Lalu dilakukan pembuatan granul. Tahap awalnya adalah Ibuprofen dan semua bahan yang telah diayak kemudian diaduk homogen dalam wadah. Hasil pencampuran kemudian dibentuk slug melalui proses slugging dengan dimasukkan kedalam rotary tablet press. Slug digranulasi dengan granulator mesh 10. Granul kemudian dicetak hingga terbentuk tablet yang kompak.

            Evaluasi granul
a.       Uji laju susut pengeringan
10 g granul ditimbang alat dinyalakan dengan menekan tombol on/off. Suhu dan waktunya diatur. Lalu tombol “tare” ditekan hingga layar menunjukkan angka nol. Kemudian granul dimasukkan ke atas piringan alumunium dan tekan tombol “start”. Setelah pengujian selesai, dilakukan pencatatan granul yang tertera di layar.
b.      Uji laju alir
Granul 15 g ditimbang dan alat untuk menentukan kecepata alir granul dan sudut istirahat disiapkan. Lalu bagian bawah alat (berupa corong) dipastikan telah tertutup rapat dan diberi alas berupa kertas pada bagian bawah alat untuk membuat plot diameter granul yang terbentuk. Kemudian granul dimasukkan. Setelah itu, bagian penutup bawah dibuka dan waktu yang dibutuhkan oleh granul untuk mengalir dicatat. Kemudian diameter lingkaran gunung serbuk yang terbentuk dihitung dan tinggi puncak juga sudut istirahat dihitung.
c.       Uji kompresibilitas
Granul ditimbang sebanyak 15 g. Lalu granul yang telah ditimbang dimasukkan dalam gelas ukur 100 ml, tanda batas dilihat dan dicatat. Kemudian gelas ukur berisi granul diketuk-ketukan dengan interval 2 detik 1 ketukan. Setelah itu tanda batas di gelas ukur diperhatikan, bila granul tidak mengalami penurunan lagi setelah 5 ketukan terakhir, pengujian telah selesai dan volume akhirnya dicatat. Lalu kerapatan nyata, kerapatan mampat, dan kompresibilitas dihitung.

            Pencetakkan tablet
            Granul yang telah diuji dicampurkan dengan fasa luar yang telah ditimbang yaitu PVP 14,9 g, talcum 5,96 g, dan Mg stearat 2,98 g. Setelah itu dimasukkan ke dalam alat pencetak tablet. Alat pencetak tablet dinyalakan dan diatur hingga didapat tablet dengan massa 0,609-0,670 g. Lalu dicetak hingga mencapai 265 kaplet.

            Evaluasi tablet
a.       Keseragaman bobot
Alat timbang dinyalakan dan ditara. Kemudian 20 butir kaplet ditimbang satu per satu dan bobot masing-masing kaplet dicatat. Setelah itu bobot rata-rata kaplet dihitung.
b.      Keseragaman ukuran
Sebanyak 20 kaplet disiapkan. Lalu masing-masing kaplet diukur diameter dan ketebalannya dengan jangka sorong. Hasil pengukuran dicatat dan rata-rata diameter juga tebal dihitung.
c.       Kekerasan
20 kaplet disediakan. Kaplet dipasang pada hardness tester dan alat dinyalakan hingga kaplet pecah. Lalu tekanan yang tertera pada alat dicatat.
d.      Friabilitas
Bobot satu kaplet ditimbang, jika satu kaplet kurang dari 650 mg maka sampel ditimbang sebanyak 6-6,5 g dan didapatkan berat awal. Kemudian sampel kaplet dimasukkan dalam friability tester. Alat kemudian dinyalakan selama 4 menit dan kaplet ditimbang serta dihitung berat akhirnya.
e.       Waktu hancur
Sebanyak 500 ml aquadest dimasukkan dalam beaker glass dengan suhu 37oC. Lalu masing-masing kaplet dimasukkan ke dalam cakram dan beaker glass dimasukka ke dalam alat disintegrator. Kemudian alat dinyalakan dan tombol start ditekan. Setelah itu waktu hancur obat dicatat.



VI. DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN

            Formula
            R/         Ibuprofen                   500 mg
                        Starch Rx 1500            75 mg
                        Amprotab                     22 mg
                        Avicel pH 102              35 mg
                        Talcum                           5 mg
                        Mg Stearat                     3 mg

            Evaluasi granul
a.       Uji laju susut pengeringan
Massa awal = 10,002 g
LOD = 2,01%
b.      Uji laju alir
Waktu = 4,3 detik
Tinggi (h) = 1,1 cm
Diameter = 10,25 cm
Jari-jari (r) = 5,125 cm
Tan α =
α = 12,134o (Sudut istirahat)
c.       Uji kompresibilitas
Massa serbuk = 15 gr
Vawal = 24 ml
Vakhir = 23,5 ml

Kerapatan nyata =

Kerapatan mampat =  

Kompresibilitas =
  =  = 2,037%
           
            Evaluasi tablet
a.       Keseragaman bobot
No
Berat tablet (gram)
1.
0,5189
2.
0,5409
3.
0,5310
4.
0,5433
5.
0,5440
6.
0,5310
7.
0,5293
8.
0,5400
9.
0,5344
10.
0,5564
11.
0,5665
12.
0,5430
13.
0,5569
14.
0,5077
15.
0,5156
16.
0,5700
17.
0,5600
18.
0,5411
19.
0,5627
20.
0,5540
Rata-rata = 0,5423 g
b.      Keseragaman ukuran
No
Tebal (mm)
Diameter (mm)
1.
3,86
13,03
2.
3,76
13,03
3.
3,87
13,03
4.
3,98
13,02
5.
3,97
13,05
6.
3,79
13,02
7.
4,03
13,06
8.
3,97
13,02
9.
4,01
13,02
10.
3,87
13,02
11.
4,00
13,02
12.
3,83
13,02
13.
4,02
13,02
14.
3,89
13,01
15.
3,78
13,03
16.
4,00
13,02
17.
3,89
13,04
18.
3,85
13,01
19.
3,94
13,06
20.
3,88
13,04
Rata-rata
3,888
13,0325
c.       Kekerasan
No
Tekanan
1.
57,5
2.
42
3.
45
4.
57,5
5.
48
6.
40
7.
35
8.
35
9.
35
10.
53
11.
28
12.
35
13.
35,5
14.
35
15.
41
16.
67,5
17.
57
18.
46
19.
57,5
20.
50
d.      Friabilitas
Sebelum diuji = 6,4323
Setelah diuji = 6,218
Rpm = 25
Waktu = 4 menit
% Friabilitas =
                     =
                     = 3,32 %
e.       Waktu hancur
Waktu hancur = 20,2 Detik



VII. PEMBAHASAN

Tahap yang pertama kali dilakukan adalah menyiapkan semua bahan yang akan digunakan yang terdiri dari Ibuprofen, Starch Rx 1500, Amprotab, Avicel pH 102, Talkum, dan Mg Stearat. Bahan-bahan tersebut dibagi menjadi dua yaitu fasa dalam dan fasa luar. Zat-zat fase dalam adalah; Ibuprofen, Starch Rx 1500, Amprotab, dan Avicel pH 102. Kemudian fasa luar adalah; Mg Stearat dan Talkum. Bahan fase dalam nantinya langsung dicampurkan dengan fase luar agar mengurangi kelengketan yang disebabkan Ibuprofen yang dapat membuat alat slugging rusak.
Tahap awal proses granulasi kering yaitu pengecilan partikel-partikel dengan proses pengayakan. Hal ini dilakukan karena distribusi ukuran partikel mempengaruhi sifat fisik dan sifat kimia serbuk yang kemudian akan berpengaruh terhadap kestabilan obat. Ukuran juga berperan penting pada homogenitas tablet akhir. Bila terdapat perbedaan ukuran partikel yang besar antara zat aktif dan eksipien, maka akan terjadi kesulitan pencampuran. Setelah proses pengayakan, bahan ditimbang sesuai ketentuan.
Selanjutnya, tahap pembuatan slug (tablet besar-besar). Pertama yang dilakukan adalah mencampurkan seluruh bahan dari formulasi. Tahap pencampuran ini dilakukan hingga homogen di dalam baskom berukuran sedang karena jumlah serbuk cukup banyak yaitu 448 g untuk 700 tablet.
Tahap yang dilakukan selanjutnya adalah proses slugging. Pada proses ini komponen–komponen tablet dikompakan dengan mesin cetak tablet lalu ditekan ke dalam die dan dikompakan dengan punch sehingga diperoleh massa yang disebut slug, prosesnya disebut slugging, pada proses selanjutnya slug kemudian diayak dan diaduk untuk mendapatkan granul yang sifat alirnya lebih baik dari campuran awal bila slug yang didapat belum memuaskan maka proses diatas dapat diulang. Setelah itu dilihat tingkat kelengketan dengan melihat nilai susut pengeringannya melalui uji LOD. Apabilan nilai LOD > 2 % maka harus dilakukan ulang proses slugging karena tablet masih terlalu lengket (kadar airnya tinggi).
Pembuatan granul adalah tahap berikutnya yang dilakukan. Slug dengan kadar air yang telah sesuai dimasukkan ke alat granulator untuk membentuk granul. Prinsip metode ini adalah membuat granul secara mekanis, tanpa bantuan bahan pengikat dan pelarut, ikatannya didapat  melalui gaya. Tujuan granulasi ini adalah untuk  menghasilkan partikel yang berukuran lebih besar dari serbuk semula (granul).
Granul lalu dilakukan pengujian granul yaitu uji kadar air (LOD). Sebanyak 10 gram granul dari granul kering ditimbang lalu diuji  LOD. Uji LOD dilakukan dengan cara granul diletakkkan di atas piring aluminium lalu dimulaikan alat, kemudian dipanaskan hingga suhu 700. Apabila suhu LOD mencapai atau lebih dari 700C, maka granul akan rusak sehingga bila suhu telah mencapai 700C, lampu harus digeser kemudian dilihat kadar airnya. Kadar air yang bagus mempunyai rentang kurang dari 2%. Bila kadar airnya lebih dari 2%, maka granul harus dikeringkan kembali. Hal ini dilakukan agar pada saat pencetakan, tablet yang terbentuk tidak basah dan tidak menempel pada cetakan tablet. Kadar air granul yang diperoleh pada percobaan adalah 2,01%.
Kemudian dilakukan uji kompresibilitas. Pertama ditimbang sebuk kering sebanyak 15g lalu dimasukkan kedalam Gelas Ukur. Setelah dimasukkan kedalam Gelas Ukur dicatatkan volume awalnya (didapat hasil 24ml) agar dapat dihitung kompresibilitasnya. Kemudian alat dinyalakan selama 5 menit, kemudian dicatatkan volume akhir (didapat hasil 23,5ml). Hasil kompresibilitas setelah melalui perhitungan adalah 2,037%.
Uji selanjutnya adalah uji Laju alir. Uji ini dimulai dari ditimbangnya granul 15g dan dimasukkan kedalam hopper, dan disiapkan stopwatch untuk dihitungkan waktu jatuhnya serbuk (didapat hasil 4.3 detik). Kemudian diameter dan tinggi serbuk yang telah dijatuhkan dihitung (didapat hasil diameter: 10,25 cm, Tinggi: 1,1 cm). Sudut istirahat yang diperoleh adalah sebesar 12,134o.
Tahap selanjutnya adalah pencetakkan tablet. Tablet dicetak dengan mesin pencetak tablet yang telah diseting sesuai ukuran yang diinginkan. Tablet yang telah dicetak lalu dilakukan uji Keseragaman bobotnya, dimulai dengan dikalibrasikan alat timbangan lalu sebanyak 20 tablet ditimbangkan satu per satu, kemudian dicatat bobot masing-masingnya, dan ini dilakukan agar dapat dihitung rata-rata tabletnya. kemudian dihitung rata-rata dari tabletnya (didapat hasil 0.5432g).
Uji selanjutnya adalah uji keseragaman ukuran. Dimulai dengan disiapkan 20 tablet dan masing-masing tablet diukur dengan alat Jangka Sorong Digital, kemudian dicatat semua hasil dari ukuran yang didapatkan, dan hal ini dilakukan agar bisa dihitung rata-rata dari ukurannya (didapat hasil Diameter: 13,0285 mm, Tebal: 3,9095 mm).
Kemudian dilakukan uji kekerasan. Dimulai dengan 20 tablet yang telah disiapkan dipasang pada alat Hardness Tester kemudian dimulai pengujian, lalu dicatat hasil tekanan yang didapatkan yang menunjukkan kekerasan dari tablet yang telah dibuat. Rata-rata tekanan yang diperoleh adalah 45,025.
Uji selanjutnya adalah uji Friabilitas. Dimulai dengan ditimbang tablet-tablet yang telah diproduksi. Tablet ditimbang hingga 6 - 6.5g dan berat satuan dari tablet yang ditimbang adalah ± 643.23 mg / 6.4323 g, kemudian sample tablet dimasukkan ke alat Friability Tester, lalu alatnya dinyalakan selama 4 menit, dan ditimbangkan lagi berat akhirnya (didapat hasil ± 621.8 mg / 6.218 g), kemudian dihitung persentase friabilitasnya dan didapat hasil 3.32 %.
Uji terakhir adalah uji waktu hancur. Diisi sebanyak 500ml aquadest kedalam beaker glass, lalu dimasukkan kedalam alat Desintegrator lalu diset suhu 37°C kemudian masing-masing tablet dimasukkan kedalam cakram, lalu dipasang ke alat dan dimasukkan kedalam beaker glass, kemudian alat mulai dinyalakan. Hasil yang didapat dari uji ini adalah 20.02 detik untuk waktu hancur seluruh obatnya.

EVALUASI GRANUL
            Pada percobaan pembuatan tablet dengan metode granulasi kering, dilakukan evaluasi terhadap granul dan tablet. Evaluasi granul dilakukan setelah terbentuk granul dari hasil pemecahan slugging, yang meliputi pengujian laju alir & sudut istirahat, kompresibiltas, dan susut pengeringan (LOD).
            Pengujian laju aliran granul bertujuan untuk memastikan homogenitas komposisi tablet selama proses pencetakan. Berdasarkan hasil percobaan, waktu alir untuk 15 gram granul adalah 4,3 detik. Artinya granul tersebut memiliki laju alir 3,5 gram/detik. Hasil tersebut menunjukkan bahwa laju alir granul buruk, sesuai dengan parameter watu alir yaitu :
> 10 gram/ detik                 Sangat baik
4 – 10 gram/ detik Baik
1,6 – 4 gram/ detik             Buruk
< 1,6 gram/ detik                Sangat buruk
Waktu alir berpengaruh terhadap keseragaman bobot. Waktu alir yang buruk dapat menyebabkan terjadinya segregasi partikel granul (pemisahan partikel di mana partikel dengan ukuran paling kecil berada pada posisi paling bawah) sehingga partikel dengan ukuran paling kecil yang biasanya merupakan zat aktif, akan turun terlebih dahulu selama pencetakan. Hal ini menyebabkan tablet yang dicetak lebih awal akan memiliki dosis yang lebih tinggi dibandingkan dengan tablet yang dicetak di akhir. Oleh karena itu, kecepatan alir yang buruk dapat menyebabkan ketidakseragaman bobot dan kandungan zat aktif atau dosis dalam sediaan tablet yang dibuat.
Sudut istirahat diperoleh dengan mengukur tinggi dan diameter tumpukan granul yang terbentuk, lalu dihitung dengan rumus :
Sudut istirahat yang diperoleh pada percobaan yaitu 12,134o. Data tersebut menunjukkan bahwa sifat alir granul yaitu mudah mengalir sesuai standar sifat alir yaitu :
< 25o          = mudah mengalir
25-45o       = mengalir
> 45o          = sukar mengalir
Berarti granul yang melewati lubang corong dapat mengalir bebas.
             Selanjutnya dilakukan uji kompresibilitas. Uji ini digunakan untuk melihat daya alir granul serta menunjukkan bahwa granul memiliki sifat yang mudah dikempa atau sulit dikempa. Dalam metode slugging, kompresibilitas sangat penting karena akan berpengaruh terhadap pengempaan. Untuk menghitung kompresibilitas, diperlukan kerapatan mampat dan kerapatan nyata. Kerapatan diperoleh dari rumus :
       dan     
Berdasarkan hasil percobaan diperoleh kerapatan nyata = 0,625 gram/ml dan kerapatan mampat = 0,638 gram/ml. Sedangkan kompresibilitas dihitung menggunakan rumus :
Sehingga diperoleh persen kompresibiltas yaitu 2,04%. Syarat kompresibilitas yang baik yaitu < 20%. Jadi, data percobaan menunjukkan bahwa daya alir granul baik dan memenuhi syarat. Kompresibilitas berhubungan dengan proses pencetakan dari tablet. Apabila kompresibilitas baik berarti granul akan mudah untuk dicetak. Karena kompresibitas bagus, maka granul siap untuk dikempa.
            Susut pengeringan atau loss on drying dilakukan untuk mengetahui kelembaban granul dan kadar air yang terkandung di dalamnya. Pengujian loss on drying dilakukan dengan menggunakan alat moisture balance. Berdasarkan hasil percobaan, LOD yang diperoleh yaitu 2,01%. Data tersebut menunjukkan bahwa kadar air granul berada dalam batas standar untuk LOD yaitu 2%. Kadar air granul pada percobaan agak berlebih. Hal itu mungkin disebabkan oleh zat aktif yaitu ibuprofen bersifat mudah meleleh. Kadar air granul berhubungan dengan kompresibilitas tablet, karena kadar air yang terbentuk beperan sebagai pengikat yang akan mengisi ruang kosong antar partikel. Selain itu, kadar air akan mempengaruhi daya serap granul yang kemudian berpengaruh pada waktu hancur tablet. Selain itu, jika tablet memiliki kadar air yang berlebih, maka tablet juga akan mudah ditumbuhi oleh mikroba.


EVALUASI TABLET
Setelah tablet dicetak, diambil beberapa tablet untuk diuji. Pengujian yang dilakukan disebut in process control (IPC) yang terdiri dari pengukuran bobot, diameter, tebal, fribilitas, kekerasan tablet serta waktu hancur tablet.
            Uji penampilan dilakukan dengan mengamati tablet secara visual. Tablet yang diperoleh dari hasil percobaan berbentuk bulat, berwarna putih dengan permukaan licin dan agak mengkilat. Selain itu diukur keseragaman ukuran yang meliputi diameter dan tebal. Menurut FI III, diameter tablet tidak boleh lebih dari 3 kali tebal tablet dan tidak boleh kurang dari 11/3 tebal tablet. Dari data percobaan diperoleh rata-rata tebal tablet yaitu 3.91 mm dan diameter 13,03 mm. Hasil tersebut menunjukkan bahwa diameter tablet tidak memenuhi criteria dalam Farmakope karena lebih dari 3x tebalnya. Diameter tablet pada percobaan mempunyai nilai 3,3 kali dari tebal tablet. Hal itu terjadi karena kesalahan optimasi tablet. Seharusnya bobot tablet yang dicetak yaiatu 0,64 gram. Namun yang dilakukan dalam percobaan yaitu 0,5 gram sehingga tablet lebih tipis dari standar yang seharusnya.
            Uji keseragaman bobot dilakukan untuk melihat homogenitas granul karena apabila bobot tidak seragam kemungkinan disebabkan oleh homogenitas yang kurang baik. Keseragamn bobot dilihat dari persen deviasi maksimum. Untuk tablet dalam percobaan, syaratnya tidak boleh ada 2 tablet yang masing-masing menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari 5% dan tidak boleh satu pun tablet yang menyimpang dari bobot rata-rata lebih dari 10%. Bobot tablet rata-rata yang diperoleh yaitu 542,3 mg,  sehingga bobot tablet harus berada dalam rentang 515,185569,415 mg. Dalam percobaan, 19 tablet berada dalam rentang tersebut dan ada 1 tablet yang tidak termasuk rentang ±5%. Namun hasil tersebut masih memenuhi syarat karena hanya ada 1 tablet yang melebihi 5% dari rata-rata dan tidak melebihi 10%-nya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa keseragaman bobot tablet pada percobaan memenuhi persyaratan. Keseragaman bobot dipengaruhi oleh laju alir. Apabila laju alir bagus, berarti keseragaman bobot juga bagus. Pada percobaan dapat dikatakan bobot tablet seragam. Hal ini sesuai, karena pada percobaan laju alir pun menunjukkan laju alir yang baik.
            Evaluasi selanjutnya yaitu uji kekerasan. Uji kekerasan dilakukan untuk mengetahui seberapa keras tablet yang dihasilkan dari proses formulasi. Tablet yang keras diperlukan untuk mencegah kerusakan fisik selama proses produksi, penyimpanan, dan transportasi. Namun kekerasannnya harus berada pada batas yang telah ditentukan. Kekerasan tablet ini erat hubungannya dengan ketebalan tablet, bentuk dan waktu hancur tablet. Berdasarkan percobaan, diperoleh rata-rata kekerasan tablet yaitu 45,025 N. Kekerasan yang baik berada pada rentang 60-70 N. Dengan demikian kekerasan tablet dalam percobaan tidak memenuhi syarat. Kekerasan tablet terlalu rendah, dengan kata lain tablet rapuh. Hal ini mungkin disebabkan oleh kurangnya pengikat seperti avicel. Tablet diharapkan memiliki tingkat kekerasan yang cukup untuk membuat tablet tetap stabil, namun dapat hancur ketika masuk ke saluran cerna di dalam tubuh. Kekerasan tablet juga sangat dipengaruhi oleh kinerja mesin tablet. Mesin tablet yang baik akan memberian nilai kekerasan yang seragam.
            Setelah IPC, dilakukan pula pengujian waktu hancur dan pengujian friabilitas. Uji friabilitas digunakan untuk melihat tingkat kerapuhan tablet terhadap gesekan dan bantingan. Hal ini berkaitan dengan penggunaan jenis pengikat dan distribusi pengikat dalam tablet. Dalam friabiitas, yang dipengaruhi adalah daya ikat eksternal tablet. Pengikat yang efektivitasnya tinggi akan memberikan % friabilitas yang rendah karena pengikat tersebut akan mengikat kuat massa tabet sehingga massa yang lepas dari tablet akan lebih sedikit. % friabilitas yang baik yaitu < 1% Persen friabilitas dapat dihitung menggunakan rumus :
                 Berdasarkan hasil percobaan, diperoleh bobot awal sebelum uji yaitu 6,4323 gram dan setelah uji yaitu 6,2189 gram. Pengurangan bobot tersebut terjadi karena adanya gesekan antar tablet yang menyebabkan fasa luar tablet terkikis. Setelah dilakukan perhitungan, diperoleh % friabilitas tablet yaitu 3,32%. Data tersebut menunjukkan bahwa bobot tablet yang hilang setelah bergesekan dengan tablet lain jumlahnya melebihi standar yang telah ditentukan. Dengan demikian, pembuatan tablet pada percobaan tidak memenuhi persyaratan friabilitas. Hal itu mungkin diakibatkan oleh tablet yang rapuh atau tidak kuat karena daya ikat yang kurang. Daya ikat yang kurang kemungkinan disebabkan oleh penggunaan pengikat kering. Penambahan pengikat secara basah lebih baik karena daya ikatnya lebih tinggi.
                 Uji waktu hancur dilakukan untuk melihat seberapa lama obat (tablet) bisa hancur di dalam tubuh/ saluran cerna yang ditandai dengan sediaan menjadi larut, terdispersi, atau menjadi lunak karena tidak lagi memiliki inti yang jelas, kecuali bagian penyalut yang tidak larut. Waktu hancur berkaitan dengan penggunaan disintegran dan daya ikat dalam formulasi tablet. Uji ini bertujuan untuk menetapkan kesesuaian batas waktu hancur sesuai monografi zat aktif. Berdasarkan hasil percobaan, waktu hancur tablet yaitu 20.2 detik. Berdasarkan Farmakope Indonesia : kecuali dinyatakan lain, semua tablet harus hancur ≤ 15 menit (tanpa salut) dan ≤ 60 menit (dengan salut). Dengan demikian dapat diketahui bahwa tablet memiliki waktu hancur yang cepat dan memenuhi persyaratan. Dilihat dari waktu hancurnya yang relatif cepat, obat ini akan bekerja efektif di lambung. Waktu hancur yang cepat ini disebabkan oleh pengunaan pengikat yang dicampurkan secara kering. Hal ini juga kemungkinan dapat disebabkan karena kualiatas bahan yang kurang baik terutama Avicel PH 102 dan kekerasan dari tablet kurang. Waktu hancur yang baik menggambarkan tablet yang baik pula karena jika dikonsumsi, tablet tersebut akan mudah larut menjadi molekul obat dalam tubuh.

Kemasan yang digunakan dalam mengemas tablet ibuprofen yang telah dibuat adalah kemasan dalam yang biasanya terbuat dari bahan PET, sedangkan kemasan luar nya terbuat dari bahan karton/kertas. Logo obat yang digunakan adalah warna hijau, menandakan bahwa obat yang dibuat adalah termasuk golongan obat bebas. Nama obat adalah Mamaprofen, berasal dari bahan aktifnya, yaitu Ibuprofen. Tanggal kadaluarsa adalah 2 tahun sejak obat tersebut dibuat, yaitu tahun 2015. Keterangan mengenai indikasi, kontraindikasi, dll dapat dilihat pada brosur. Nomor batch : M 041304001 , dan nomor Registrasi : GBL 13 411 001 10 A1. Penjelasan mengenai penomoran batch dan reg. ada dibawah ini :
·        G : Nama Dagang
·        B : Golongan obat bebas
·        L : Obat jadi produksi dalam negeri/local
·        13 : Obat jadi yang telah di setujui pendaftarannya pada priode 2013-2015
·        411 : menunjukkan Nomor urut pabrik
·        001 : menunjukkan nomor urut obat jadi yang disetujui untuk masing-masing pabrik
·        10 : Sediaan Tablet
·        A : Menunjukkan kekuatan obat yang pertama di setujui
·        1 : Menunjukkan kemasan yang pertama
·        Produksi Ruahan
Digit 1 : Untuk produk (tahun)
Digit 2 & 3 : Kode produk dari produk ruahan
Digit 4,5 & 6 : Urutan produk
·        Produk jadi
2-6 digit pada produk ruahan ditambah di depan.



VIII. KESIMPULAN
Granulasi kering, yaitu metode yang memproses partikel zat aktif dan eksipien dengan mengempa campuran bahan kering menjadi massa padat, selanjutnya dipecah lagi untuk menghasilkan partikel yang berukuran lebih besar dari serbuk semula (granul).
Uji Quality Control (QC) terhadap tablet dilakukan dengan evaluasi berikut ini :
a. Kemampuan alir dan sudut istirahat
     α = 12,134o (Sudut istirahat)
     waktu alir = 4,3 detik
b. Kompresibilitas
     = 2,037%

c. Kadar air (loss on drying)
     = 2,01 %
d. Keseragaman bobot dan ukuran
     Rata-rata bobot = 0,5423 g
     Rata-rata tebal = 3,888 mm
     Rata-rata diameter = 13,0325 mm
e. Waktu hancur = 20,2 detik
f. Kekerasan Rata-rata tekanan = 44,5
g. Friabilitas = 3,32 %




DAFTAR PUSTAKA

Depkes. 1979. Farmakope Indonesia, Edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.
Depkes. 1995. Farmakope Indonesia, Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.
Kloe. 2010. Metode granulasi kering. Available online at : http://duniafarmasi.com/farmasetika/metode-granulasi-kering [diakses 27 April 2013]
Lachman, L., A. L. Herbert, & L. K. Joseph. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Diterjemahkan oleh: Siti Suyatmi. Universitas Indonesis Press. Jakarta
Sulaiman, T. N. S.  2007. Teknologi dan Formulasi Sediaan Tablet. Pustaka Laboratorium Teknologi Farmasi Fakultas Farmasi UGM. Yogyakarta.
Voigt, R. 1984. Buku Ajar Teknologi Farmasi, Edisi V. diterjemahkan oleh Soewandhi, S. N., Edisi 5. UGM Press. Yogyakarta.