More Text

Unordered List

Unordered List

BTricks

BThemes

Powered by Blogger.

About Me

My photo

Just An Ordinary People
But I Have A Dream
And Someday, I Believe The Dream Will Be Come True :D

Thursday, June 13, 2013

LAPORAN PRAKTIKUM PEMBUATAN TABLET SALUT FILM | TEKNOLOGI FORMULASI SEDIAAN SOLID






I.       Tujuan
1.                Mengetahui cara pembuatan tablet dengan metode penyalutan film
2.                Melakukan uji Quality Control (QC) terhadap tablet


II.    Prinsip

1.                Metode penyalutan film
Metode dimana Tablet inti yang disalut dengan lapisan relatif tipis dari material yang cocok. Dalam metode ini terdapat daya adhesi antara larutan penyalut dan tablet inti. Metode ini memiliki waktu pengerjaannya relatif lebih cepat, lebih efisien karena membutuhkan tenaga dan bahan lebih sedikit, luas area produksi bisa dikurangi, dan hanya sedikit menambah berat tablet (2-4%)
2.                Evaluasi tablet berdasarkan standar quality control (QC)
a.  Waktu hancur
Uji ini dimaksudkan untuk menetapkan kesesuaian batas waktu hancur yang tertera dalam masing-masing monografi, kecuali pada etiket dinyatakan bahwa tablet atau kapsul digunakan sebagai tablet hisap atau dikunyah atau dirancang untuk pelepasan kandungan obat secara bertahap dalam jangka waktu tertentu atau melepaskan obat dalam dua periode berbeda atau lbih dengan jarak waktu yang jelas diantara periode pelepasan tersebut.
b.  Friabilitas
Friabilitas merupakan salah satu parameter yang perlu ditetapkan dari sebuah tablet untuk mengetahui ketahanan tablet terhadap bantingan pada saat pengepakan maupun distribusi. Sebelum diuji, tablet harus dibersihkan dari segala debu atau serbuk yang menempel, begitupun setelah pengujian. Bobot sebelum dan sesudah diuji kemudian dibandingkan. Selisih bobotnya tidak boleh lebih dari 1%.
c.  Keseragaman bobot
Pengujian dimana diambil sebanyak 20 tablet kemudian ditimbang dan dihitung bobot rata-ratanya. Selanjutnya tablet tersebut ditimbang satu persatu dan dihitung persentase masing-masing dengan syarat, tidak boleh lebih dari dua tablet yang bobotnya menyimpang lebih dari 5% bobot rata-ratanya dan tidak satu tabletpun yang bobotnya menyimpang lebih dari 10% bobot rata-ratanya.


III. Teori dasar

Tablet Bersalut
Tablet bersalut adalah tablet yang disalut dengan zat penyalut yang cocok untuk maksud dan tujuan tertentu. Tablet salut film adalah tablet kempa yang disalut dengan salut tipis, berwarna atau tidak dari bahan polimer yang larut dalam air yang hancur cepat di dalam saluran cerna (Depkes RI, 1979).
Perbedaannya dengan salut gula adalah tablet salut gula merupakan tablet kempa yang disalut dengan beberapa lapis lapisan gula baik berwarna maupun tidak. Supaya dapat menahan bantingan selama proses penyalutan tablet inti harus memiliki resistensi dan kekerasan yang cukup di dalam panci penyalut yang berputar terus menerus selama proses berlangsung. Kekerasan yang cukup juga akan berperanan memperlambat penyalut pada waktu dilakukan penyalutan dan sebaiknya permukaan tablet berbentuk. Bentuk tablet inti yang ideal untuk disalut ialah: sferis, elip, bikonvek bulat atau bikonvekoval. Tinggi antara permukaan tablet sedapat mungkin agak rendah. Pada bentuk ini sesudah dibasahi dengan cairan penyalut, kemungkinan hanya terjadi lengketan pada satu titik tertentu saja dari sisi tablet dan perlekatan ini hanya akan berlangsung selama periode waktu relative singkat karena segera terlepas lagi pada waktu terjadi gerakan panci penyalut. Kelebihan salut film dibanding dengan salut gula ialah lebih tahan terhadap kerusakan akibat goresan, bahan yang dibutuhkan lebih sedikit dan waktu pembuatannya lebih sedikit (Lachman, et. al., 1994).

Beberapa keuntungan penggunaan teknologi film coating yaitu :
a.                 Waktu proses yang lebih cepat
b.                Pengurangan luas area produksi
c.                 Peningkatan berat yang minimum
d.                Otomatisasi, seiring dengan perkembangan teknologi proses penyalutan lapis tipis dapat diotomatisasi (Basri, 2009).
Dalam penyalutan lapis film pada tablet biasanya mengandung jenis-jenis bahan seperti polimer (pembentukan selaput), plasticizer, surfaktan, pewarna, pemanis/perasa/pengharum, pengkilap, dan pelarut. Bahan polimer yang digunakan adalah hidroksipropil metilselulosa (HPMC). Polimer ini merupakan suatu bahan pilihan untuk sistem suspensi udara dan sistem panci penyalut dengan penyemprotan (Lachman, et. al., 1994).
Jika hanya menggunakan polimer saja akan dihasilkan lapisan film yang rapuh, mudah pecah, dan mudah terkelupas, untuk memperbaiki hal tersebut, diperlukan plasticizer untuk mempertinggi keluwesan dan fleksibilitas dari lapisan tipis penyalut tersebut (Basri, 2009).
Tablet inti (core) yang akan disalut haruslah memenuhi persyaratan tertentu, karena selama proses penyalutan akan terjadi gerakan dan bantingan tablet inti secara terus menerus selama beberapa waktu. Kerapuhan tablet inti harus sekecil mungkin. Kerapuhan yang tinggi akan menyebabkan terbentuknya partikel halus dan kasar yang akan dapat menempel pada permukaan tablet selama proses penyalutan, tempelan tersebut dengan sendirinya akan menyebabkan cacat pada permukaan tablet yang disalut. Tablet inti harus hancur dengan cepat di dalam lambung atau usus sesudah penyalut terlarut (untuk tablet yang entero soluble). Pada umumnya tablet inti yang disalut akan hancur lebih lama jika dibandingkan dengan tablet yang tidak disalut. Perubahan waktu hancur tersebut disebabkan karena pada waktu penyalutan, pori pada permukaan tablet ditutupi oleh larutan penyalut sehingga akan memperlambat penetrasi cairan pada waktu hancur (Basri, 2009).
Tablet yang disalut haruslah memenuhi persyaratan-persyaratan, diantaranya:
a.                 Permukaan tablet harus benar-benar licin
b.                Lapisan penyalut harus stabil dan tidak cacat
c.                 Pewarnaan yang homogen pada lapisan tipis yang berwarna dan tidak boleh terjadi migrasi zat warna ke dalam inti tablet
d.                Lapisan penyalut tidak boleh menunjukkan sifat mudah pecah dan retak
e.                 Penyalutan harus dapat melindungi tablet inti terhadap pengaruh udara kelembaban dan cahaya.
f.                  Penyalut harus mempunyai rasa yang menyenangkan dan dapat menutupi rasa dan bau yang tidak enak dari tablet inti
g.                 Pada umumnya lapisan penyalut harus melarut dalam media cairan lambung dengan waktu sesingkat mungkin
h.                 Penyalutan yang digunakan tidak boleh merusak atau mengurangi aktivitas bahan obat (Martin, et. al., 1993).

Prinsip-Prinsip Penyalutan Tablet
Ada dua komponen utama yang penting dalam penyalutan tablet yaitu :
a.                 Sifat-sifat tablet
Tablet-tablet yang akan disalut harus mempunyai sifat fisik tertentu yang sesuai. Dalam proses penyalutan, tablet-tablet bergulir di dalam panci atau berhamburan dalam aliran udara dari suatu penyalut suspensi udara ketika proses penyalutan berlangsung. Agar mampu menahan benturan sesama tablet atau benturan tablet dengan dinding panci, maka tablet harus tahan terhadap abrasi dan gumpil. Permukaan tablet yang rapuh, yang lunak oleh pemanasan, atau yang rusak oleh campuran penyalut, cenderung menjadi kasar pada tahap awal proses penyalutan dan tidak cocok untuk disalut dengan lapisan tipis (Augsburger & Hoag, 2008).
b.                Proses penyalutan
Distribusi dari penyalut dilakukan dengan menggerakkan tablet-tablet tersebut, baik secara tegak lurus (panci penyalut) maupun secara vertikal (alat penyalut suspensi udara) terhadap pemakaian campuran penyalut (Augsburger & Hoag, 2008). Tergantung pada peralatan dan fasilitas yang tersedia, operasi penyalutan lapisan tipis dilakukan dengan menggunakan panci penyalut untuk penyalutan. Cara penambahan larutan penyalut dapat dilakukan dengan cara penuangan seperti halnya pada penyalutan gula atau dengan cara penyemprotan dengan alat khusus. Baik penuangan ataupun penyemprotan dapat dilakukan secara terus-menerus atau dengan diselang-seling (intermittent) (Basri, 2009).

Bahan-Bahan yang Digunakan dalam Penyalutan Tablet
Suatu bahan penyalut lapisan tipis yang ideal harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :
a.                 Larut dalam pelarut yang digunakan untuk persiapan penyalutan.
b.                Larut dalam keadaan tertentu yang dimaksud, misalnya kelarutan yang mudah dalam air, lambat larut dalam air atau kelarutan yang tergantung pada pH (lapisan enterik).
c.                 Kemampuan untuk menghasilkan produk yang tampak anggun.
d.                Stabilitas dalam keadaan panas, cahaya, kelembapan, udara dan substrat yang akan disalut. Sifat-sifat lapisan tipis harus tidak berubah dengan berlalunya waktu.
e.                 Tidak memiliki warna, rasa ataupun bau.
f.                  Serasi dengan aditif larutan penyalut pada umumnya.
g.                 Tidak toksis, tidak mempunyai kegiatan farmakologis dan mudah dipakai ke partikel atau tablet.
h.                 Tahan retakan dan dilengkapi dengan pelindung obat terhadap kelembapan, cahaya dan bau bila perlu (Saifullah, 2007).

Evalusi Pra-penyalutan Tablet
Pemeriksaan waktu hancur tablet yang disalut enterik, menurut United State Pharmacopeia (USP), mengharuskan tablet tahan terhadap pengadukan dalam larutan pemeriksaan cairan lambung buatan pada temperatu 37 ± 2 o C (tanpa lempengan). Setelah satu jam terpapar dalam cairan lambung batan tersebut, tablet tidak memperhatikan bukti adanya daya hancur, keretakan atau kerapuhan. Kemudian ditambahkan suatu lempengan pada setiap tabung dan pemeriksaan dilanjutkan dengan menggunakan cairan usus buatan yang dipertahankan pada temperatur 37 ± 2oC sebagai cairan pencelup, untuk satu metode pemeriksaan selama 2 jam atau dalam batas waktu yang tertera dalam monografinya. Jika seluruh tablet sudah hancur, pemeriksaan tablet sudah selesai. Bila 1 atau 2 tablet tidak hancur secara sempurna, pemeriksaan diulangi dengan menggunakan 12 tablet tambahan. Pemeriksaan daya hancur tablet dinyatakan selesai bila 16 dari 18 tablet dapat dihancurkan (Aulton, 1988).


IV.  Alat dan Bahan
A.   Alat

1.  Alat penyalut
2.  Ayakan mesh 10, 16
3.  Beaker glass
4.  Disintegrator
5.  Friability tester
6.  Gelas ukur
7.  Neraca Analitik
8.  Pemanas Listrik
9.  Perkamen

B.    Bahan

1.  Alkohol
2.  Aquadest
3.  Coloris
4.  Opadry
5.  Tablet





V.     Prosedur

Evaluasi pra-penyalutan
a.   Keseragaman bobot
Alat timbang dinyalakan dan ditara. Kemudian 20 butir kaplet ditimbang satu per satu dan bobot masing-masing kaplet dicatat. Setelah itu bobot rata-rata kaplet dihitung.
b.    Friabilitas
Bobot satu kaplet ditimbang, jika satu kaplet kurang dari 650 mg maka sampel ditimbang sebanyak 6-6,5 g dan didapatkan berat awal. Kemudian sampel kaplet dimasukkan dalam friability tester. Alat kemudian dinyalakan selama 4 menit dan kaplet ditimbang serta dihitung berat akhirnya.
c.   Waktu hancur
Sebanyak 500 ml aquadest dimasukkan dalam beaker glass dengan suhu 37oC. Lalu masing-masing kaplet dimasukkan ke dalam cakram dan beaker glass dimasukka ke dalam alat disintegrator. Kemudian alat dinyalakan dan tombol start ditekan. Setelah itu waktu hancur obat dicatat.


Pembuatan larutan penyalut
Formula:
R/   Opadry                        10 g
      Aquadest                      10 ml
      Alkohol                        ad 100 ml
      Zat warna                     q.s
10 g opadry dilarutkan dalam 10 ml aquadest. Lalu ditambahkan alkohol hingga 100 ml. Kemudian ditambahkan zat warna secukupnya dan dicampur hingga homogen.

Penyalutan tablet
Sebelum dilakukan penyalutan bobot satu tablet ditimbang dan keseluruhan tablet pun ditimbang. Lalu tablet dimasukkan dalam panci penyalut. Kemudian larutan penyalut disemprotkan ke dalam panci dengan spray gun. Setelah itu dilakukan pengeringan menggunakan blower setelah dilakukan penyemprotan.

Evaluasi tablet salut
a.                 Keseragaman bobot
Alat timbang dinyalakan dan ditara. Kemudian 20 butir kaplet ditimbang satu per satu dan bobot masing-masing kaplet dicatat. Setelah itu bobot rata-rata kaplet dihitung.
b.                Waktu hancur
Sebanyak 500 ml aquadest dimasukkan dalam beaker glass dengan suhu 37oC. Lalu masing-masing kaplet dimasukkan ke dalam cakram dan beaker glass dimasukka ke dalam alat disintegrator. Kemudian alat dinyalakan dan tombol start ditekan. Setelah itu waktu hancur obat dicatat.



VI.  Data Pengamatan dan Perhitungan

Evaluasi Pra-penyalutan
a.                 Uji Keseragaman bobot
Tabel 1. Keseragamn bobot awal tablet
No
Berat tablet  (gram)
1.
0,16
2.
0,16
3.
0,17
4.
0,16
5.
0,15
6.
0,11
7.
0,17
8.
0,14
9.
0,15
10.
0,16
11.
0,14
12.
0,17
13.
0,14
14.
0,17
15.
0,17
16.
0,16
17.
0,13
18.
0,16
19.
0,17
20.
0,16
Rata-rata
0,155

b.                Friabilitas
Sebelum diuji    = 6,1 gram
Setelah diuji      = 6,06 gram
Kecepatan                    = 25 rpm
Waktu              = 4 menit
% Friabilitas     =
                        =
                        = 0,65 %
c.                 Waktu hancur
Waktu hancur = 13 detik


Formula Larutan Penyalut

R/  Opadry             10 gram
      Aquadest          10 ml
      Alkohol      ad 100 ml
      Zat Warna  q.s.

Hasil Penyalutan Tablet
Tablet salur berwarna hijau

Evaluasi Tablet Salut
a.                 Uji Keseragaman bobot
Tabel 2. Keseragaman bobot akhir tablet
No
Berat tablet  (gram)
1.
0,15
2.
0,15
3.
0,15
4.
0,17
5.
0,14
6.
0,15
7.
0,17
8.
0,15
9.
0,15
10.
0,13
11.
0,15
12.
0,14
13.
0,14
14.
0,16
15.
0,14
16.
0,14
17.
0,15
18.
0,15
19.
0,15
20.
0,15
Rata-rata
0,149

b.                Waktu hancur
Waktu hancur = 1 menit 46 detik


VII.   Pembahasan
Pada praktikum kali ini, dilakukan proses penyalutan tablet dengan salut film. Keuntungan dari salut film ini yaitu memperbaiki tampilan tablet, memperlama waktu release tablet/waktu disolusi, dan sebagai perlindungan terhadap lingkungan luar, misalnya terhadap cahaya dan udara luar. Tablet yang akan disalut harus memiliki friabilitas yang baik serta berbentuk cenderung tidak mempunyai bidang datar karena tablet bentuk ini memiliki friabilitas yang cenderung baik. Sebelum dilakukan penyalutan film pada tablet, tablet di uji pra-penyalutan terlebih dahulu yaitu seperti uji keseragaman bobot, uji waktu hancur, dan uji friabilitas.
Pada uji keseragaman bobot, alat yang digunakan adalah neraca atau timbangan digital. Pengujian ini bertujuan untuk melihat keseragaman dari tablet yang dibuat dengan pengujian bobot secara acak. Tablet yang digunakan untuk pengujian sebanyak 20 tablet dan ditimbang satu per satu. Hasil dari percobaan diperoleh jumlah bobot tablet tersebut adalah 3100 mg dengan bobot rata-rata 155 mg. Berdasarkan pada perhitungan berat tablet nyata yang memiliki rentang ukuran 140 mg – 170 mg, maka bobot tablet tersebut dikatakan tidak sesuai dengan ketentuan dari keseragaman bobot. Bobot yang tidak sesuai ini, kemungkinan karena validasi alat yang tidak baik sehingga ketika pencetakan, bobot tabletnya tidak memenuhi syarat. Seharusnya pada saat pencetakan tablet dilakukan uji dahulu dengan mencetak satu tablet kemudian ditimbang bobotnya. Jika bobotnya telah memenuhi persyaratan maka pencetakan tablet diteruskan, tetapi apabila tidak sesuai maka alat harus divalidasi kembali.
Pengujian waktu hancur tablet ini bertujuan untuk mengetahui berapa lama tablet tersebut hancur menjadi molekul-molekul yang siap untuk didistribusikan di dalam tubuh. Pada pengujian waktu hancur ini, 6 tablet dimasukan ke dalam alat disintegrator tester, yang berupa keranjang dengan 6 kolom dimana pada kolom-kolom tersebut dimasukkan tablet yang akan diuji. Kemudian ada cakram penutup yang berfungsi untuk mencegah tablet tersebut keluar dari kolom. Keranjang yang telah berisi tablet, ditutup dengan cakram dan dimasukkan ke dalam beaker glass yang telah berisi air dengan suhu 37oC. Waktu yang diperlukan agar semua tablet hancur sempurna adalah 13 detik. Hal ini sesuai dengan yang disyaratkan Farmakope Indonesia Edisi 3, yaitu waktu hancur untuk tablet tidak bersalut adalah kurang dari 15 menit.
Pengujian Friabilitas merupakan suatu pengujian untuk mengetahui kerapuhan tablet jika tablet mengalami gesekan antar sesama. Pengujian friabilitas ini menggunakan alat friabilator. Banyaknya tablet yang digunakan dalam pengujian friabilitas memiliki berat antara rentang 6 g hingga 6,5 gram, bila berat tabletnya kurang dari 650 mg. Pada percobaan ini, berat tablet yang digunakan berada dalam rentang 140-170 mg, sehingga banyaknya tablet yang digunakan untuk uji friabilitas yaitu 6-6,5 gram. Kecepatan yang digunakan dalam pengujian friabilitas ini adalah sebesar 25 rad/s selama 4 menit. Pada percobaan ini berat tablet yang digunakan adalah sebesar 6,1 gram dan bobot akhir tablet setelah pengujian adalah 6,06 gram. 

Persentase friabilitas yang didapat adalah 0,65 %. Berdasarkan pada literatur, friabilitas yang dapat diterima  adalah < 1%. Sumber lain menyebutkan bahwa kehilangan berat lebih kecil dari 0,5% sampai 1% masih dapat dibenarkan. Berdasarkan literatur dapat dikatakan bahwa persentase friabilitas dari tablet yang akan disalut memenuhi persyaratan yang sebenarnya.
Tablet inti yang sudah diuji kelayakannya agar dapat disalut film lewat uji keseragaman bobot, uji kompresibilitas, dan uji friabilitas, siap untuk disalut dengan larutan penyalut dalam panci penyalut khusus. Tablet inti yang akan digunakan untuk disalut hendaknya memiliki stabilitas fisika yang cukup baik untuk bertahan terhadap beban mekanis dalam panci penyalut (beban guliran dan beban gesekan) atau dalam bet berputar(beban tumbukan). Tablet yang digunakan tidak boleh mempunyai bidang yang datar, lebih baik berbentuk bundar telur atau bundar bikonveks atau oval bikonveks dengan tinggi sisi yang rendah. Pada percobaan kali ini digunakan tablet bikonkaf. Tablet inti juga harus bebas dari debu. Suatu perluasan inti (misalnya karena debu) tidak boleh muncul karena dapat menyebabkan hancurnya inti secara prematur. Inti-inti yang pecah harus dihilangkan sebelum penyalutan, karena kondisi permukaan yang berpori dapat menyebabkan infiltrasi cairan penyalut ke dalam inti yang tidak dikehendaki.
Adapun tujuan dari penyalutan tablet dengan salut film adalah untuk melindungi zat berkhasiat terhadap pengaruh lingkungan, menutupi rasa bau yang tidak enak, perlindungan terhadap benturan mekanik, meningkatkan penampilan, membantu dan mempermudah identifikasi sediaan, menghindari inkompatibilitas, mempermudah proses pengemasan, modifikasi profil dan kecepatan disolusi.
Sebanyak 100 tablet yang sudah siap untuk disalut dimasukkan ke dalam panci penyalut yang berbentuk spheris. Panci tersebut sebelumnya dilapisi dengan perekat (lakban) agar tablet tablet tersebut tidak lengket dalam dinding panci. Panci penyalut ini dapat berputar searah jarum jam pada sebuah sumbu miring dimana sudut kemiringannya dapat diatur. Kecepatan putaran panci juga dapat diatur. Panci ini juga dilengkapi dengan blower (dengan suhu kira-kira 600C) dan alat penghisap debu. Selanjutnya tablet dalam panci disemprot dengan larutan penyalut sedikit demi sedikit secara manual menggunakan alat semprot khusus sambil panci berputar. Adapun larutan penyalut yang digunakan adalah Opadry yang diencerkan dengan pelarut alkohol. Pada proses penyemprotan larutan penyalut perlu diperhatikan jarak antara tablet dengan alat penyemprot dan sudut kemiringan alat penyemprot. Bila terlalu dekat maka tablet akan menjadi lengket dan cenderung untuk bersatu. Sebaliknya bila terlalu jauh, penyemprotan menjadi tidak efisien karena tidak mengenai tablet. Pada saat penyemprotan dilakukan juga penarikan debu dari tablet sesekali menggunakan alat vacum dan juga digunakan blower untuk memberikan udara panas agar pelarut dalam larutan penyalut cepat menguap sehingga tablet tidak lengket. Pancaran semburan diarahkan kepada tablet-tablet inti yang ada dalam panci penyalut, sedangkan suplai udara hangat diarahkan tidak jauh dari daerah semburan. Uap bahan pelarut dihisap pada bagian sisi atas panci, dimana jumlah udara yang melintasi alat penghisap harus lebih besar daripada suplai udara hangat, sehingga uap bahan pelarut tidak mengalir keluar dari panci. Proses melembabkan inti yang diakhiri dengan pengeringan udara harus berlangsung cepat, jika ingin menjamin homogenitas lapisan.
Tebal penyalut yang melapisi tablet inti tidak boleh terlalu tebal ataupun terlalu tipis. Tebal lapisan materi penyalut disesuaikan dengan kebutuhan sasaran obat, misalnya tablet tahan asam lambung namun larut dalam usus halus, maka harus memiliki tebal penyalut 60 mikrometer.
Dari hasil penyalutan yang dilakukan, didapatkan hasil yang kurang memuaskan. Tablet yang disalut mengalami picking/sticking yaitu terkelupasnya permukaan tablet. Hal ini disebabkan kecepatan penyemprotan yang terlalu tinggi serta tidak merata, jarak penyemprotan yang kurang baik, kondisi pengeringan yang tidak mencukupi, dan distribusi cairan penyalut yang buruk. Hal ini bisa diatasi dengan mengurangi kecepatan penyemprotan, mengatur jarak penyemprotan, dan menigkatkan kondisi pengeringan.
Setelah dilakukan penyalutan, tablet kemudian di evaluasi. Evaluasi tablet salut meliputi kenaikan bobot tablet dan waktu hancur tablet. Uji kenaikan bobot dilakukan dengan mengambil secara acak sebanyak 20 tablet yang telah disalut, kemudian masing-masing tablet ditimbang dan kemudian dihitung bobot rata-rata nya. Bobot rata-rata ini kemudian dibandingkan dengan bobot rata-rata tablet inti dan kemudian dipersentasikan. Menurut literatur kenaikan bobot yang dipersyaratkan untuk tablet salut selaput adalah sebesar 2-5 %. Dari hasil penimbangan diperoleh rata-rata bobot tablet salut yang di evaluasi adalah sebesar 149 mg. Rata-rata bobot tablet salut ini berkurang bila dibandingkan dengan rata-rata bobot tablet awal, yaitu 155 mg. Pengurangan bobot ini dapat terjadi karena proses penyalutan yang kurang baik sehingga lapisan penyalut tidak menutupi tablet inti secara sempurna. Selain itu, adanya tumbukan antara tablet dan panci penyalut serta tablet lainnya pada saat proses penyalutan juga dapat menyebabkan adanya pengurangan pada bobot tablet.
Evaluasi selanjutnya adalah pengujian waktu hancur. Waktu hancur tablet salut lapis tipis perlu diketahui untuk meyakinkan bahwa tablet tersebut dapat hancur segera sehingga dapat menggambarkan hancurnya tablet dalam saluran cerna. Pada saat tablet hancur, tablet berada pada keadaan terlarut yang selanjutnya dapat terabsorpsi dalam saluran sistemik. Pada sediaan tablet, sebelum obat terlarut, tablet harus terdisintregasi atau hancur menjadi partikel-partikel. Semakin cepat hancur suatu tablet, diharapkan semakin cepat obat sampai pada sasarannya. Waktu hancur dari tablet salut yang memenuhi persyaratan FI III yaitu tidak melebihi 60 menit untuk tablet salut selaput.
Pengujian waktu hancur, dilakukan dengan menggunakan alat disintegrator kemudian dihitung waktu nya hingga tidak ada bagian tablet yang tertinggal di atas kasa pada keranjang. Dari hasil pengujian, tablet yang telah disalut memiliki waktu hancur yang cukup cepat yaitu selama 1 menit 46 detik. Hal ini menunjukkan bahwa penyalut dapat terlarut dalam medium uji yaitu aquadest sehingga waktu hancur nya tidak berbeda jauh dengan waktu hancur tablet inti.


VIII.                    Kesimpulan
1.                Pembuatan tablet salut film dilakukan dengan menggunakan metode dimana tablet inti yang disalut dengan lapisan relatif tipis dari material yang cocok. Dalam metode ini terdapat daya adhesi antara larutan penyalut dan tablet inti.
2.                Uji Quality Control (QC) terhadap tablet salut dilakukan dengan evaluasi berikut ini :
a.  Keseragaman bobot
Sebelum penyalutan = Rata-rata bobot = 0,155 g
Setelah penyalutan   = Rata-rata bobot = 0,149 g
b.  Friabilitas                      = 0,65%
c.  Waktu hancur
Sebelum penyalutan          = 13 detik
Setelah penyalutan            = 1 menit 46 detik




DAFTAR PUSTAKA

Augsburger, L.L. & Hoag, S. W. 2008. Pharmaceutical Dosage Forms: Tablets. 3rd Edition. Informa Health Care USA. New York.
Aulton, M, E. 1988. Pharmaceutics: The Science of Dosage Form Design. Churchill Livingstone Inc. New York.
Basri. 2009. Batang Brotowali (Tinospora crispa (L) Miers) dengan Bahan Penyalut Hidroksipropil Metilselulosa dan Polietilen Glikol 400. Tersedia di: http://www.etd.eprints.ums.ac.id/5865/ [diakses pada 13 Mei 2013].
Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi Ketiga. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.
Lachman, L. , Lieberman, H. A., & Joseph, L. K. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi Ketiga. Penerjemah: Siti Suyatmi. Penerbit Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Martin, A., James, S., & Arthur, C. 1993. Farmasi Fisik. UI Press. Jakarta.
Saifullah. 2007. Tablet Salut. Tersedia di:  http://www.akfar.ac.id/index.php?option=com_phocadownload&view=category&id=4:tablet&download=7:tablet-khusus&Itemid=70 [diakses pada 13 Mei 2013].