More Text

Unordered List

Unordered List

BTricks

BThemes

Powered by Blogger.

About Me

My photo

Just An Ordinary People
But I Have A Dream
And Someday, I Believe The Dream Will Be Come True :D

Thursday, June 13, 2013

Laporan Praktikum Penentuan Kadar Trigliserida | Biokimia Klinik




  I.       TUJUAN
1.      Menyiapkan pasien untuk pemeriksaan trigliserida dalam darah.
2.      Menginterpretasikan hasil laboratorium yang diperoleh.


II.       PRINSIP



III.       TEORI
Trigliserida merupakan lipid yang memiliki struktur ester, yang tersusun oleh tiga molekul asam lemak bebas dan satu molekul gliserol seperti yang ditunjukan pada Gambar 1(Zulfikar, 2010):



Gambar 1. Struktur trigliserida yang disusun oleh molekul gliserol dan tiga molekul asam lemak bebas

Reaksi kimia untuk trigliserida pada prinsipnya memiliki kesamaan dengan senyawa alkena dan ester, misalnya trigliserida dapat terhidrogenasi oleh gas Hidrogen yang dikatalisis oleh logam nikel atau platina, reaksi untuk senyawa tersebut disajikan dalam persamaan reaksi pada gambar 2 (Zulfikar,2010):



Bagan 2. Reaksi hidrogenasi trigliserida

Reaksi hidrolisis pada trigliserida akan menghasilkan gliserol dan asam lemak. Reaksi ini dapat berlangsung dalam suasana asam atau basa atau dapat pula dengan bantuan enzim. Reaksi hidrolisis dari trigliserida dapat dilihat pada persamaan di bawah ini (Zulfikar,2010):



Gambar 3. Reaksi Hidrolisi trigliserida

     Trigliserida merupakan jenis lemak yang dapat ditemukan dalam darah dan merupakan hasil uraian tubuh pada makanan yang mengandung lemak dan kolesterol yang telah dikonsumsi dan masuk ke tubuh serta juga dibentuk di hati (Ayu,2011).



Setelah mengalami proses di dalam tubuh, trigliserida ini akan diserap usus dan masuk ke dalam plasma darah yang kemudian akan disalurkan ke seluruh jaringan tubuh dalam bentuk klomikron dan VLDL (very low density lipoprotein) (Ayu,2011).
Trigliserida dalam bentuk klomikron berasal dari penyerapan usus setelah konsumsi makanan berlemak. Sebagai VLDL, trigliserida dibentuk oleh hati dengan bantuan insulin dari dalam tubuh (Ayu,2011).
Sementara itu, trigliserida yang berada di luar hati dan berada dalam jaringan misalnya jaringan pembuluh darah, otot, jaringan lemak akan dihidrolisis oleh enzim  lipoprotein lipase. Sisa hidrolisis kemudian akan dimetabolisme oleh hati menjadi kolesterol LDL (Ayu,2011).
Kalori yang didapatkan tubuh dari makanan yang dikonsumsi tidak akan langsung digunakan oleh tubuh melainkan disimpan dalam bentuk trigliserida dalam sel-sel lemak di dalam tubuh yang berfungsi sebagai energi cadangan tubuh (Ayu,2011).
Asupan makanan yang mengandung kadar lemak jenuh yang tinggi dapat meningkatkan efek trigliserida di dalam tubuh seseorang. Jika kadar trigliserida meningkat, maka kadar kolesterol pun akan meningkat pula (Ayu,2011).
Proses pencernaan lemak dari makanan selain menghasilkan kolesterol juga menghasilkan trigliserida dan lemak bebeas semua lemak ini akan diserap oleh tubuh melalui usus ke dalam darah. Keberadaan kolesterol dan trigliserida dalam darah memang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Jika pengkonsumsian makanan yang mengandung lemak jenuh berlebihan maka mengakibatkan kadar kolesterol berlebihan juga. Hal ini akan menimbulkan ancaman dan masalah yang serius, terutama pada penyakit pembuluh darah yang disebut aterosklerosis. Penyakit ini dapat memicu timbulnya penyakit jantung coroner dan stroke (Wijayakusuma, Hembing, 2003).
Trigliserida yang berlebih dalam tubuh akan disimpan di dalam jaringan kulit sehingga tubuh terlihat gemuk. Seperti halnya kolesterol, kadar trigliserida yang terlalu berlebih dalam tubuh dapat membahayakan kesehatan (Ayu,2011).
Namun, trigliserida dalam batas normal sebenarnya sangat dibutuhkan tubuh. Asam lemak yang dimilikinya bermanfaat bagi metabolisme tubuh. Selain itu, trigliserida memberikan energi bagi tubuh, melindungi tulang, dan organ-organ penting lainnya dalam tubuh dari cedera (Ayu,2011).

Trigliserida dikelompokkan menjadi (Putri,2011):

·         Lemak Jenuh (lemak jahat)
Berbentuk padat pada suhu ruangan dan dikenal sebagai lemak jahat. Umumnya lemak jenuh terdapat dalam produk hewani. Semakin banyak konsumsi lemak jenuh, maka akan semakin tinggi kadar koleseterol dalam darah. Contoh makanan yang mengandung lemak jenuh : susu murni, keju berlemak, cokelat, daging, kelapa, mentega, babi, hati, ayam. Sebaiknya jangan terlalu banyak mengkonsumsi jenis lemak jenuh ini.

·         Lemak Tidak Jenuh (lemak baik)
Berbentuk cair atau lunak jika berada pada suhu ruangan. Lemak ini dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Jenis lemak tidak jenuh ini merupakan jenis lemak baik. Lemak ini terbagi dua yaitu lemak tidak jenuh tunggal dan lemak tidak jenuh ganda. Contoh makanan yang mengandung lemak tidak jenuh tunggal adalah zaitun, minyak kacang tanah, beberapa margarine yang non-dihidrogenasi, almond, kacang mete.
Sementara lemak tidak jenuh ganda bersumber dari makanan yang mengandung omega 3 (contoh: ikan salmon, makarel, dan sarden, biji rami, walnut, dan minyak dan margarin yang non-hidrogenasi dibuat dari kanola, biji rami dan kedelai. Konsumsi setidaknya 2 porsi ikan per minggu) dan omega 6 (bunga matahari, kedelai dan minyak jagung, walnut, almond, biji wijen dan beberapa margarine non-dihidrogenasi.)

·         Lemak Trans
Jenis lemak trans akan meningkatkan kolesterol. Lemak ini terbentuk selama proses kimiawi (misalnya proses pemasakan) yang disebut hidrogenasi. Hidrogenasi adalah ketika sebuah lemak cair berubah menjadi lemak yang lebih padat. Kebanyakan margarine mengandung lemak trans. Untuk itu, pilih margarine yang tidak mengandung lemak trans (Anda bisa melihat label yang tertera pada kemasannya).
Lemak trans berbahaya dan sebaiknya dihindari karena jenis lemak trans bertindak seperti lemak jenuh di dalam tubuh manusia yang akhirnya dapat meningkatkan kolesterol.
     Menurut the National Cholesterol Education Program, kadar trigliserida yang normal adalah kurang dari 150 mg/dL. Kadar yang termasuk perbatasan tinggi adalah 150-199, dan 200-499 termasuk dalam tinggi (Budi, 2011).
Penentuan kadar trigliserida dapat dilakukan dengan metode enzimatik. Dimana reaksi yang terjadi pada penetapan kadar trigliserida adalah dengan terbentuknya senyawa kompleks 4-(p-benzokinon-monoimino)-fenazon yang berwarna kuning kecoklatan, yang kemudian diukur serapannya pada panjang gelombang 500 nm. Mekanisme reaksinya adalah sebagai berikut: trigliserida dengan adanya enzim lipoprotein lipase akan dihidrolisis menjadi gliserol dan asam lemak. Gliserol dengan adanya adenosine trifosfat (ATP) oleh enzim gliserol kinase dirubah menjadi gliserol-3-fosfat. Selanjutnya gliserol-3-fosfat dioksidasi oleh enzim gliserol fosfat oksidase menjadi dihidroksiasetonfosfat dan hidrogen peroksida. Hidrogen peroksida yang terbentuk bereaksi dengan 4-aminofenazon dan 4-klorofenol membentuk senyawa 4-(p-benzokuinon-monoimino)-fenazon yang berwarna kuning kecoklatan (Dachriyanus, et al., 2007).
  Ambang batas kadar trigliserida dalam darah adalah sebagai  berikut (Budi,2011):
·      Kadar yang diingini                   : maksimal 150 mg / dl 
·      Kadar ambang batas tinggi        : antara 151 - 250 mg /dl 
·      Kadar trigliserida tinggi : 251 - 400 mg / dl 
·      Kadar trigliserida amat tinggi     : 401 mg / dl atau lebih             
Adiposit menghasilkan dan mensekresi beberapa protein yang berperan sebagai hormon. Hormon yang dikenal sebagai adiponektin, berperan penting dalam proses radang, dan aterosklerotik. Adiponektin merupakan salah satu dari banyak faktor spesifik jaringan adipose. Pengaruh adiponektin pada metabolisme trigliserida adalah dengan melibatkan perubahan intrinsik pada metabolisme lemak di otot skelet dan berpengaruh terhadap aktivitas lipoprotein lipase di otot skelet dan adiposit. Adiponektin dapat menurunkan akumulasi trigliserida di otot skelet dengan meningkatkan oksidasi asam lemak melalui aktivasi acetyl coA oxidase, Carnitine Palmytoyl Transferase-1 (CPT-1) dan AMP kinase. Adiponektin juga dapat menstimulasi Lipoprotein Lipase (LPL), yang merupakan enzim lipolitik yang dapat mengkatabolis VLDL melalui peningkatan ekspresi Peroxisome Proliferators Activator Receptor  γ (PPARγ) di hati dan adiposit. Pada tingkat hepatik, adiponektin dapat menurunkan suplai Non Esterified Fatty Acid (NEFA) ke hati pada proses glukoneogenesis, sehingga terjadi penurunan sintesis trigliserida. Kadar adiponektin yang rendah dan dislipidemia pada penderita diabetes melitus tipe 2 berhubungan dengan kadar LPL (Renaldi, Olly, 2009).
Untuk diet menurunkan kadar trigliserida mulailah dengan (Budi,2011):
ü Perbanyak makanan tinggi protein tak berlemak
ü Ganti karbohidrat dengan nilai glikemik tinggi dengan karbohidrat berglikemik rendah.
ü Perbanyak konsumsi buah-buahan dan sayuran segar yang mengandung serat tinggi.
ü Ganti konsumsi lemak jenuh dan trans dengan lemak yang baik.
ü Turunkan total lemak makanan sampai 20%-30% dari kalori.
ü Kurangi intake kalori untuk menurunkan berat badan dan pertahankan berat badan yang ideal.
ü Berolah raga minimal 30 menit per hari.
ü Hentikan kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol.


IV.       ALAT DAN BAHAN
§  Alat   :
1.      Kuvet
2.      Pipet piston
3.      Spektrofotometer UV-Vis

§  Bahan    :
1.      Aquades
2.      Reagen
3.      Serum
4.      Standar trigliserida

V.       PROSEDUR
Ke dalam kuvet dipipetkan :

Blangko Reagen (µl)
Standar (µl)
Sampel (µl)
Aquadest
10
-
-
Standar
-
10
-
Sampel
-
-
10
Reagen
1000
1000
1000

Dicampurkan dan diinkubasikan selama 20 menit pada suhu ruangan. Kemudian baca absorbansi sampel (Asampel) terhadap BR pada panjang gelombang 546 nm. Setelah itu dihitung konsentrasi trigliserida dalam sampel, dengan persamaan:
Ctrigliserida    =  x 200 mg/dl
Percobaan ini dilakukan secara triplo.

VI.       DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
Kelompok
Absorbansi
Blanko
Standar
Sample
1
2
3
1
0,101
0,230
0,632
0,683
0,603
2
0,746
0,845
0,989
3
1,126
0,568
0,381
4
0,635
0,687
0,605

Perhitungan

Ctrigliserida     =  x 200 mg/dl



VII.       PEMBAHASAN

Tujuan dari percobaan kali ini adalah menyiapkan pasien untuk pemeriksaan trigliserida dalam darah dan menginterpretasikan hasil laboratorium yang diperoleh. Prinsip pengukurannya adalah trigliserida diukur setelah melalui proses oksidasi dan hidrolisis enzimatik. Indikator kuinonimin dibentuk dari hidrogen peroksida dan 4-aminofenanzon yang berasal dari fenol dan peroksidase.
Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:


Pertama darah pasien (sampel) diambil. Selanjutnya darah tersebut ditampung dalam tabung sentrifugasi dan kemudian disentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm selama 30 menit (ini merupakan waktu dan kecepatan yang optimum dalam memisahkan antara plasma darah dan serumnya). Prinsip dari sentrifugasi adalah memisahkan serum dan plasma berdasarkan prinsip berat jenis (BJ) dimana plasma berwarna lebih merah tua pekat, sehingga berada pada bagian bawah tabung (BJ besar), sedangkan serum yang berwarna merah bening (BJ kecil) akan berada pada bagian atas tabung.
Pada percobaan ini, reaksi yang terjadi adalah enzim lipase akan memperantarai hidrolisis trigliserida menjadi gliserol dan asam-asam lemak. Selanjutnya gliserol ini akan mengalami fosfatasi dengan bantuan enzim gliserol kinase yang akan menghasilkan gliserol-3-fosfat. Kemudian gliserol-3-fosfat akan dioksidasi menghasilkan dihidroksi-aseton-fosfat dan hidrogen peroksida (H2O2). Pada tahap selanjutnya, hidrogen peroksida inilah yang akan bereaksi dengan 4-aminofenazon dan 4-klorofenol dengan bantuan enzim peroksidase membentuk kompleks kuinonimin yang berwarna merah muda yang kemudian dapat diukur secara fotometrik.
Prinsip dari pengujian ini adalah dengan menembakkan energi dengan panjang gelombang tertentu (dalam percobaan ini λmaks yang digunakan adalah 546nm) pada suatu senyawa (dalam hal ini adalah kuinonimin). Hal ini membuat elektron dari senyawa tersebut akan tereksitasi ke orbital yang lebih tinggi. Setelah mengalami eksitasi, elektron tersebut akan turun kembali ke ground state (keadaan dasar), sambil melepaskan emisi yang akan terukur oleh detektor. Salah satu yang memegang peranan penting dalam pengujian kali ini adalah adanya gugus kromofor dalam kuinonimin berupa ikatan rangkap terkonjugasi, keton, dan imina.
Setelah serum didapat, diambil sebanyak 10 µL dan ditambahkan reagen sebanyak 1000 µL dan diaduk dengan tujuan agar serum dan reagen homogen. Ini dilakukan sebanyak 3 kali (triplo) agar kesalahan relatif yang dihasilkan menjadi lebih kecil sehingga hasil pemeriksaan yang dilakukan mempunyai keakuratan yang lebih tinggi. Larutan blanko dibuat dengan mengambil aquadest dan reagen sebanyak 10 µL dan 1000 µL. Tujuan dari pembuatan larutan blanko adalah aquades (pelarut) yang digunakan tidak memililiki daya absorbansi (tidak mempengaruhi hasil pengukuran) sehingga ketika kita mengukur sampel, hanya kadar trigliserida yang ingin kita ukur saja yang dapat terukur. Kemudian dibuat juga larutan standar yang berisi 10 µL standar trigliserida 200 mg/dL dan reagen sebanyak 1000 µL. Larutan standar ini digunakan sebagi pembanding bagi sampel. Kemudian sampel didiamkan selama 20 menit. Hal ini dimaksudkan agar didapatkan hasil yang optimal dimana reagen dan sampel bereaksi optimal karena reaksi yang terjadi merupakan reaksi enzimatis yang berjalan lambat.
Setelah itu dilakukan pengukuran aktivitas serum dengan spektrofotometer UV-Vis dengan panjang gelombang 546 nm. Pada panjang gelombang inilah diharapkan hasil yang didapat daya absorbansinya optimal. Pada saat menggunakan alat spekrofotometer UV-Vis, kuvet yang akan digunakan harus dicuci bersih agar tidak ada kontaminan. Adanya kontaminan menyebabkan pengukuran tidak tepat sehingga hasil pemeriksaan kadar trigliserida akan salah.
Dari hasil pengukuran didapat bahwa absorbansi standar dan blanko adalah 0,230 dan 0,101 sedangkan aborbansi sampel kelompok 4 adalah 0,635, 0,687, dan 0,605. Dari hasil perhitungan, didapatkan kadar trigliserida yang diukur oleh kelompok 4 adalah sebesar 559,04 mg/dl. Sedangkan dari perhitungan rata-rata untuk semua data yang didapatkan dari keempat kelompok didapatkan hasil kadar trigliserida sebesar 615,942 mg/dl.
Berdasarkan literatur, ambang batas kadar trigliserida dalam darah adalah sebagai  berikut (Budi,2011):
·      Kadar yang diingini                   : maksimal 150 mg / dl 
·      Kadar ambang batas tinggi        : antara 151 - 250 mg /dl 
·      Kadar trigliserida tinggi : 251 - 400 mg / dl 
·      Kadar trigliserida amat tinggi     : 401 mg / dl atau lebih.
Maka pasien tersebut dinyatakan kadar trigliseridanya tidak normal atau dapat dinyatakan pula bahwa  kadar trigliserida tersebut sangat tinggi.
Selain itu mungkin dalam percobaan ini, dapat terjadi kesalahan yang menyebabkan nilai yang didapatkan teramat tinggi. Kesalahn yang mungkin terjadi idantaranya adalah:
·      Kesalahan penyiapan sampel serum darah
·      Kesalahan dalam pengukuran absorbansi dari sampel
·      Reagen yang digunakan telah rusak
·      Atau oleh penyebab lainnya.

VIII.       KESIMPULAN
Hasil pemeriksaan kadar trigliserida rata-rata dari sampel serum adalah 615,942 mg/dl yang menunjukkan bahwa kadar trigliseridanya tidak normal atau dapat dinyatakan pula bahwa  kadar trigliserida tersebut sangat tinggi.





DAFTAR PUSTAKA

Ayu. 2011. Trigliserida. Tersedia online pada: http://www.deherba.com/apakah-itu-trigliserida.html. (diakses tanggal 18 April 2013)
Budi. 2011. Trigliserida. Tersedia online pada: http://www.jakartalantern.com/thegreatbiz/wellness-and-nutrition/atasi-kolesterol-sekarang/kolesterol-dalam-darah/trigliserida.html.(diakses tanggal 18 April 2013)
Dachriyanus, et al. 2007. Uji Efek A-Mangostin terhadap Kadar Kolesterol Total, Trigliserida, Kolesterol HDL, dan Kolesterol LDL Darah Mencit Putih Jantan serta Penentuan Lethal Dosis 50 (LD50). Padang. Jurusan Farmasi Fakultas MIPA Universitas Andalas
Putri. 2011. Trigliserida. http://www.penyakitplus.com/trigliserida (diakses tanggal 18 April 2013).
Zulfikar. 2010. Trigliserida. Tersedia online pada: http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-kesehatan/biomolekul/trigliserida/. (diakses tanggal 18 April 2013)
Renaldi, Olly. 2009. Peran Adiponektin terhadap Kejadian Resistensi Insulin pada Sindrom Metabolik. Yogyakarta. Medica Review FK UGM