More Text

Unordered List

Unordered List

BTricks

BThemes

Powered by Blogger.

About Me

My photo

Just An Ordinary People
But I Have A Dream
And Someday, I Believe The Dream Will Be Come True :D

Thursday, June 13, 2013

Laporan Praktikum Pemeriksaan Fungsi Ginjal Dengan Tes Kreatinin Dalam Serum | Biokimia Klinik



Pemeriksaan Fungsi Ginjal Dengan Tes Kreatinin Dalam Serum



I.               Tujuan
1.    Melakukan pemeriksaan fungsi ginjal dengan tes kreatinin dalam serum
2.    Menginterpretasikan hasil pemeriksaan yang diperoleh

II.            Prinsip
Reaksi antara kreatinin dengan asam pikrat dalam suasana basa akan membentuk kompleks kreatinin-pikrat yang berwarna kuning jingga yang kadarnya dapat diukur dengan spektrofotometer uv visible pada panjang gelombang 545 nm.

III.               Teori
             Ginjal merupakan organ berbentuk kacang, dengan ukuran kepalan tangan. Ginjal berada di dekat bagian tengah punggung, tepat di bawah tulang rusuk, satu di setiap sisi tulang belakang. Setiap hari, proses ginjal seseorang sekitar 200 liter darah untuk menyaring sekitar 2 liter produk limbah dan air ekstra. Limbah dan air ekstra menjadi urin, yang mengalir ke kandung kemih melalui tabung yang disebut ureter. Kandung kemih menyimpan urin sampai melepaskannya melalui air seni (NIDDK, 2009).
            Fungsi ginjal yaitu sebagai sistem penyaringan alami tubuh, melakukan banyak fungsi penting. Fungsi ini termasuk menghilangkan bahan ampas sisa metabolisme dari aliran darah, mengatur keseimbangan tingkat air dalam tubuh, dan menahan pH (tingkat asam-basa) pada cairan tubuh. Kurang lebih 1,5 liter darah dialirkan melalui ginjal setiap menit. Dalam ginjal, senyawa kimia sisa metabolisme disaring dan dihilangkan dari tubuh (bersama dengan air berlebihan) sebagai air seni. Penyaringan ini dilakukan oleh bagian ginjal yang disebut sebagai glomeruli. Selain mengeluarkan limbah, ginjal merilis tiga hormon penting yaitu erythropoietin atau EPO, yang merangsang sumsum tulang untuk membuat sel-sel darah merah; renin, yang mengatur tekanan darah; calcitriol, bentuk aktif vitamin D, yang membantu mempertahankan kalsium untuk tulang dan untuk keseimbangan kimia yang normal dalam tubuh (NIDDK, 2009).
          Adanya kerusakan dapat memengaruhi kemampuan ginjal kita dalam melakukan tugasnya. Beberapa dapat mengakibatkan penurunan fungsi ginjal secara cepat (akut); yang lain dapat menyebabkan penurunan yang lebih lamban (kronis). Keduanya menghasilkan penumpukan bahan ampas yang toksik (racun) dalam darah. National Kidney Foundation merekomendasikan tiga tes sederhana untuk skrining penyakit ginjal: tekanan darah pengukuran, cek spot untuk protein atau albumin dalam urin, dan perhitungan laju filtrasi glomerulus (GFR) berdasarkan pengukuran kreatinin serum. Mengukur urea nitrogen dalam darah memberikan informasi tambahan (NIDDK, 2009).
            Kreatinin merupakan produk penguraian keratin. Kreatin disintesis di hati dan terdapat dalam hampir semua otot rangka yang berikatan dengan dalam bentuk kreatin fosfat (creatin phosphate, CP), suatu senyawa penyimpan energi. Dalam sintesis ATP (adenosine triphosphate) dari ADP (adenosine diphosphate), kreatin fosfat diubah menjadi kreatin dengan katalisasi enzim kreatin kinase (creatin kinase, CK). Seiring dengan pemakaian energi, sejumlah kecil diubah secara ireversibel menjadi kreatinin, yang selanjutnya difiltrasi oleh glomerulus dan diekskresikan dalam urin (Riswanto, 2010).
      Banyaknya kreatinin yang dikeluarkan seseorang setiap hari lebih bergantung pada massa otot total daripada aktivitas otot atau tingkat metabolisme protein, walaupun keduanya juga menimbulkan efek. Pembentukan kreatinin harian umumnya tetap, kecuali jika terjadi cedera fisik yang berat atau penyakit degeneratif yang menyebabkan kerusakan masif pada otot (Riswanto, 2010). Ginjal mempertahankan kreatinin darah dalam kisaran normal. Kreatinin telah ditemukan untuk menjadi indikator yang baik untuk menguji fungsi ginjal (Siamak, 2009).
           Pada orang yang mengalami kerusakan ginjal, tingkat kreatinin dalam darah akan naik karena clearance/ pembersihan kratinin oleh ginjal rendah. Tingginya kreatinin memperingatkan kemungkinan malfungsi atau kegagalan ginjal. Ini adalah alasan memeriksa standar tes darah secara rutin untuk melihat jumlah kreatinin dalam darah. Hal ini penting untuk mengenali apakah proses menuju ke disfungsi ginjal (gagal ginjalazotemia) akut atau kronik. Sebuah ukuran yang lebih tepat dari fungsi ginjal dapat diestimasi dengan menghitung berapa banyak kreatinin dibersihkan dari tubuh oleh ginjal, dan ini disebut kreatinin clearance (Siamak, 2009).
       Klirens kreatinin adalah laju bersihan kreatinin menggambarkan volume plasma darah yang dibersihkan dari kreatinin melalui filtrasi ginjal per menit. Bersihan kreatinin biasanya dinyatakan dalam mililiter per menit.  Karena kreatinin dieliminasi dari tubuh terutama melalui filtrasi ginjal, maka menurunnya kinerja ginjal akan menyebabkan peningkatan kreatinin serum akibat berkurangnya laju bersihan kreatinin.
1.     Uji Kreatinin
            Jenis sampel untuk uji kreatinin darah adalah serum atau plasma heparin. Kumpulkan 3-5 ml sampel darah vena dalam tabung bertutup merah (plain tube) atau tabung bertutup hijau (heparin). Lakukan sentrifugasi dan pisahkan serum/plasma-nya. Catat jenis obat yang dikonsumsi oleh penderita yang dapt meningkatkan kadar kreatinin serum. Tidak ada pembatasan asupan makanan atau minuman, namun sebaiknya pada malam sebelum uji dilakukan, penderita dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi daging merah. Kadar kreatinin diukur dengan metode kolorimetri menggunakan spektrofotometer, fotometer atau analyzer kimiawi (Riswanto, 2010).
            Pengujian kreatinin dilakukan untuk mengevaluasi fungsi ginjal. Kreatinin dikeluarkan dari tubuh sepenuhnya oleh ginjal. Jika fungsi ginjal normal, kadar kreatinin akan meningkat dalam darah (karena kreatinin kurang dilepaskan melalui urin Anda). Tingkat kreatinin juga bervariasi berdasarkan ukuran seseorang dan massa otot (National Institutes of Health, 2007).
Bersihan kreatinin penting diketahui karena banyak obat yang dieliminasi oleh ginjal. Jika fungsi ginjal pasien menurun, laju eliminasi obat untuk disekresikan di urin juga akan menurun, disertai dengan peningkatan konsentrasi plasma. Peningkatan konsentrasi obat dalam plasma yang signifikan dapat menyebabkan obat mencapai kadar toksiknya; oleh karena itu, dosis mungkin perlu disesuaikan dengan berkurangnya eliminasi obat (Ansel, 2006).
            Kadar normal kreatinin berdasarkan umur yaitu sebagai berikut :
Kadar normal kreatinin pada orang dewasa adalah :
Laki-laki : 0,6-1,3 mg/dl.
Perempuan : 0,5-1,0 mg/dl
(Wanita sedikit lebih rendah karena massa otot yang lebih rendah daripada pria) (Riswanto, 2010).
Kadar normal kreatinin pada anak adalah :
Bayi baru lahir : 0,8-1,4 mg/dl.
Bayi : 0,7-1,4 mg/dl.
Anak (2-6 tahun): 0,3-0,6 mg/dl.
Anak yang lebih tua: 0,4-1,2 mg/dl.
Kadar agak meningkat seiring dengan bertambahnya usia, akibat pertambahan massa otot (Riswanto, 2010).
Kadar normal kreatinin pada lansia adalah :
Kadarnya mungkin berkurang akibat penurunan massa otot dan penurunan produksi kreatinin (Riswanto, 2010).
2.     Apabila kadar lebih tinggi, maka dapat menunjukkan:
Akut tubular nekrosis
Dehidrasi
Diabetes nefropati
Eklamsia (suatu kondisi kehamilan yang meliputi kejang)
·        Glomerulonefritis
·        Gagal ginjal
·        Penyakit otot menyusun
·        Preeklampsia (kehamilan-induced hipertensi)
·        Pielonefritis
·        ginjal Berkurangnya aliran darah (syok, gagal jantung kongestif)
·        Rhabdomyolysis
·        Obstruksi saluran kemih
·        Sedangkan bila lebih rendah dari normal dapat menunjukkan:
·        Muscular dystrophy (tahap akhir)
·        Myasthenia gravis
(National Institutes of Health, 2007).
            Beberapa factor yang bisa mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium diantara adalah obat tertentu (lihat pengaruh obat) yang dapat meningkatkan kadar kreatinin serum, kehamilan, aktivitas fisik yang berlebihan, dan konsumsi daging merah dalam jumlah besar dapat mempengaruhi temuan laboratorium (Riswanto, 2010)



IV.        Alat dan Bahan

Alat
1.      Beaker glass
2.      Disposable Tips
3.      Kuvet
4.      Mikropipet
5.      Spektrofotometer UV-Vis
6.      Stopwatch

Bahan
1.      Aquadest
2.      Asam Pikrat (Reagen 2)
3.      Kreatinin 2 mg/dL (Standar)
4.      NaOH (Reagen 1)
5.      Serum (Sampel)




    V.            Prosedur
         Larutan Blanko dibuat terlebih dahulu. Aquadest 50 μL dimasukan ke dalam kuvet kemudian ditambahkan 1000 μL reagen 1 (NaOH). Campuran Diinkubasikan selama 5 menit. Setelah itu, ditambahkan 250 μL reagen 2 (Asam Pikrat). Spektrofotometer ditara dengan blanko pada panjang gelombang 546 nm.
     Selanjutnya, dibuat larutan standar. Kreatinin standar (2 mg/dL) sebanyak 50 μL dimasukan ke dalam kuvet kemudian ditambahkan 1000 μL reagen 1 (NaOH). Campuran Diinkubasikan selama 5 menit. Setelah itu, ditambahkan 250 μL reagen 2 (Asam Pikrat) lalu diinkubasikan selama 1 menit. Setelah diinkubasi, absorbansi standar diukur pada spektrofotometer yang telah ditara dengan panjang gelombang 546 nm. Kemudian didapatkan nilai absorbansi 1 standar. Setelah itu, campuran diinkubasikan kembali selama 2 menit kemudian absorbansinya diukur lagi pada spektrofotometer yang telah ditara dengan panjang gelombang 546 nm. Kemudian, didapatkan nilai absorbansi 2 standar.
       Selanjutnya, dibuat larutan sampel. Serum sebanyak 50 μL dimasukan ke dalam kuvet kemudian ditambahkan 1000 μL reagen 1 (NaOH). Campuran Diinkubasikan selama 5 menit. Setelah itu, ditambahkan 250 μL reagen 2 (Asam Pikrat) lalu diinkubasikan selama 1 menit. Setelah diinkubasi, absorbansi standar diukur pada spektrofotometer yang telah ditara dengan panjang gelombang 546 nm. Kemudian didapatkan nilai absorbansi 1 ssampel. Setelah itu, campuran diinkubasikan kembali selama 2 menit kemudian absorbansinya diukur lagi pada spektrofotometer yang telah ditara dengan panjang gelombang 546 nm. Kemudian, didapatkan nilai absorbansi 2 sampel. Pengujian sampel dilakukan secara duplo.
Setelah itu, dari data yang telah didapatkan, kadar kreatinin dalam sample dihitung.


VI.  Data Pengamatan
Kelompok
Sampel
A1
A2
∆A
1
1
0,026
0,032
0,007
2
0,029
0,035
0,006
2
1
0,039
0,049
0,01
2
0,038
0,048
0,01
3
1
0,035
0,047
0,012
2
0,033
0,042
0,009
4
1
0,044
0,053
0,009
2
0,038
0,045
0,007

A1 standar = 0,011
A2 standar = 0,017
∆A standar = 0,006



VII.            Pembahasan
            Pertama, disiapkan kit untuk test kreatinin, yaitu reagen I, reagen II, dan standar kreatinin. Selain itu, disiapkan juga sampel yang akan diperiksa. Test kreatinin ini dilakukan untuk mengetahui kadar kreatinin dalam darah, dimana merupakan salah satu parameter pada penyakit gagal ginjal. Kreatinin adalah sisa metabolisme otot yang hanya dikeluarkan dari ginjal, pada ginjal rusak kreatinin akan ditahan bersama nitrogen nonprotein di darah, sehingga terjadi penurunan kadar kreatinin di urin dan peningkatan kadar kreatinin di darah.

            Kedua, dilakukan pembuatan larutan uji (blanko, standar, dan sampel) yang akan diperiksa absorbansinya menggunakan spektrofotometri Uv/ Vis. Instrument ini digunakan karena larutan uji merupakan larutan berwarna yang memiliki gugus kromofor sehingga dapat menyerap cahaya visible yang dilewatkan larutan saat dianalisis dengan instrument. Untuk pembuatan larutan uji, disiapkan 3 buah kuvet. Pada kuvet 1 (blanko) dimasukkan 10 µl aquadest, kuvet 2 (standar) dimasukkan 10 µl kreatinin standar, kuvet 3 (sampel) dimasukkan µl sampel.   Pada penanganan, kuvet yang berbentuk balok dengan sisi buram dan bening, hanya boleh dipegang pada sisi buram, karena pada sisi bening akan dilewati sinar visible didalam instrument, sehingga adanya bekas noda atau pengganggu lain dikhawatirkan mengubah serapan zat. Selanjutnya, pada setiap kuvet ditambahkan 500 µl reagen I, dan dibiarkan 5 menit agar terjadi reaksi antara kreatinin dengan reagen I. Setelah itu, pada setiap kuvet ditambahkan 500 µl reagen II, dibiarkan selama 1 menit, agar reaksi antara kreatinin, reagen I, dan reagen II sempurna. Setiap penambahan larutan menggunakan mikropipet karena alat ini memiliki ketelitian hingga 1 µl sehingga presisi dan akurasinya baik.

            Ketiga, larutan blanko  diukur absorbansinya dengan instrument spektrofotometer Uv/ Visible yang diatur panjang gelombangnya pada 520 nm. Pengaturan panjang gelombang 520 nm karena kreatinin akan memberikan serapan paling besar pada panjang gelombang maksimal tersebut. Hasil absorbansi awal dicatat, lalu larutan blanko dibiarkan selama 2 menit untuk diuji kembali absorbansinya. Alasan pengukuran dilakukan 2 kali untuk mengetahui selisih absorbansi pada konsentrasi awal (pengukuran pertama) dengan absorbansi pada konsentrasi akhir (pengukuran kedua), sebab kreatinin akan bereaksi, berbanding lurus dengan waktu, dengan persamaan reaksi

            Sehingga ada selisih konsentrasi pada pengukuran pertama dan kedua yang nanti digunakan untuk pengukuran kadar kreatinin. Hasil absorbansi larutan blanko dijadikan dasar untuk pengukuran larutan standar dan sampel yang berarti apabila blanko memberikan serapan, serapan dua larutan yang lain dikurangi dengan serapan blanko. Setelah itu, dilakukan pula pengujian absorbansi larutan standar dan larutan sampel dengan prosedur yang sama seperti pengujian larutan blanko.
   
            Pada sampel 1, nilai kreatininnya adalah 3 mg/dl atau 265,5 μmol/l, sedangkan pada sampel 2 diperoleh nilai kreatinin sebesar 2,33 mg/dl atau 206,5 μmol/l. Nilai ini diperoleh dari rumus berikut ini:
                  Konsentrasi kreatinin dalam serum = Description: C:\Users\User\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image030.gif
      dimana konsentrasi standard adalah 2 mg/dl dan 177 μmol/l. Berdasarkan nilai konsentrasi kreatinin hasil pengukuran pada percobaan kali ini, disimpulkan bahwa nilai tersebut berada di atas nilai normal kreatinin, dimana nilai normal kreatinin adalah 0,6-1,1 mg/100 ml atau 53-97 μmol/l untuk pria, sedangkan untuk wanita adalah 0,5-0,9 mg/100 ml atau 44-80 μmol/l. Nilai hasil pengukuran sampel pada percobaan kali ini yang berada di atas nilai normal kreatinin, menunjukkan bahwa ada kemungkinan terjadi gangguan pada ginjal. Ada kemungkinan terjadi gangguan pada fungsi filtrasi glomerulus.




VIII. Kesimpulan
1.    Pemeriksaan fungsi ginjal dengan tes kreatinin dalam serum dapat dilakukan dengan alat spektrofotometer uv-visibel pada panjang gelombang 546 nm.
2.    Kadar kreatinin dalam sampel serum adalah 236 µmol /L dan hal ini menunjukkan kadar kreatinin yang tidak normal (lebih tinggi dari normal).




Daftar Pustaka


Davey, P. 2005. At a Glance Medicine. Penerbit Erlangga. Jakarta.
NIDDK. 2009.   The Kidneys and How They Work. Tersedia di     http://kidney.niddk.nih.gov/Kudiseases/pubs/yourkidneys/ [diakses tanggal 21 April 2013]
Sacher, R. A., dan R. A, McPherson. 2004. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Edisi 11. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.